Analisa Proses Bisnis – Pertemuan 12/ 15 – Materi Perkuliahan

Gede Surya Mahendra - Home

Analisa Proses Bisnis – Pertemuan 12/ 15 – Materi Perkuliahan

Stiki Logo - Short

Mata Kuliah : Analisa Proses Bisnis

Kode Mata Kuliah : MKK-209

Program Studi : Teknik Informatika

STIMIK STIKOM Indonesia

PERTEMUAN 12

Untuk tampilan lebih baik, dapat mendownload file PDF pada link yang tersedia

Kemampuan Akhir yang Diharapkan:

Mahasiswa menganalisis Proses Bisnis Saat Ini (As-Is) pada perusahaan jasa

Bahan Kajian:

  • Pemodelan proses bisnis saat ini (as- is) pada perusahaan jasa

Metode Pembelajaran:

  • Metode proses Based Learning dengan topik perusahaan jasa

Pengalaman Pembelajaran:

  • Merancang pemodelan document flow diagram hasil dari analisis proses bisnis saat ini pada perusahaan jasa

Kriteria Penilaian dan Indikator:

  • Kemampuan untuk mengidentifikasi sebuah proses bisnis saat ini pada perusahaan jasa dan memodelkan document flow diagram.

 

Download File Materi PDF

Download File Slide Perkuliahan PDF 

 

TINJAUAN

  1. Sumber Data
  2. Pendahuluan
  3. Metodologi
  4. Hasil Penelitian
  5. Kesimpulan
  6. Proses Bisnis Pemesanan Dan Check-In Kamar & Ruangan (As Is)
  7. Proses Bisnis Pemesanan Dan Check-In Kamar & Ruangan (To Be)

MATERI

Sumber Data

Contoh pada materi ini menggunakan hasil pemaparan pada artikel jurnal ilmiah dengan judul “Analisis dan Evaluasi Proses Bisnis Menggunakan Business Process Improvement (BPI) pada UB Guest House” dengan penulis Raditya Rizky Putra, Nanang Yudi Setiawan, Retno Indah Rokhmawati, pada Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer, Vol. 2, No. 9, September 2018, hlm. 3193-3201.

Pendahuluan

UB Guest House merupakan salah satu Unit Usaha dari Univesitas Brawijaya yang secara operasional berada di bawah tanggung jawab Rektorat Universitas Brawijaya yang diresmikan pada tahun 2006. UB Guest House saat ini memiliki 38 karyawan dengan tugas dan divisi berbeda untuk mendukung operasional dari proses bisnis yang ada untuk mencapai Visi, Misi dan Tujuan UB Guest House. Proses bisnis adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan saling berkoordinasi pada lingkungan suatu organisasi dan teknisnya yang bertujuan untuk mewujudkan tujuan bisnis yang ditentukan. Proses bisnis yang dimiliki UB Guest House memiliki berbagai macam program kerja untuk mendukung jalannya proses bisnis itu sendiri.

Proses bisnis utama UB Guest House di bidang jasa adalah sebagai bisnis penginapan yang mengutamakan pelayanan terbaik untuk memberikan kepuasan bagi pelanggan serta restoran yang memiliki cita rasa khas Indonesia yang di desain dengan suasana yang kental dengan budaya tradisional Indonesia. Proses bisnis yang baik membuat semua kegiatan berjalan semakin cepat, efektif dan efisien.

Untuk mengetahui apakah proses bisnis yang ada dalam organisasi berjalan secara lancar, diperlukan analisis secara mendalam untuk menilai apakah masih diperlukan peningkatan proses bisnis di berbagai sector ataupun divisi yang ada. Metode yang digunakan untuk menganalisis kesalahan yang mungkin saja terjadi atau potensi masalah pada proses bisnis yang ada adalah metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Metode FMEA mengidentifikasi masalah serta memberikan peringatan tentang efek yang akan ditimbulkan jika potensi kesalahan terjadi. Setelah melakukan analisis dan evaluasi, perlu dilakukan peningkatan atau improvement di berbagai bagian proses bisnis agar dapat mempercepat waktu yang diperlukan serta membuat proses tersebut semakin efektif dan efisien. Maka diperlukan metode yang tepat untuk meningkatkan proses bisnis yang ada, salah satunya dengan metode Business Process Improvement (BPI).

Pada penelitian ini tahap pertama yang dilakukan adalah melakukan wawancara awal untuk mendapatkan informasi yang diperlukan seperti informasi mengenai UB Guest House, penjelasan tentang proses bisnis saat ini serta permasalahan yang dapat terjadi. Setelah mendapat informasi mengenai proses bisnis yang berjalan, proses bisnis saat ini (as is) dimodelkan dengan Diagram Business Process Model and Notation (BPMN) lalu dianalisis dan dievaluasi dengan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) adalah suatu metode sistematis untuk mengidentifikasi penyebab dari suatu masalah yang terjadi dan mencegah masalah pada proses sebelum masalah tersebut dapat terjadi. Tujuan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) adalah menemukan potensi permasalahan agar dapat diperbaiki dan dicegah untuk meminimalisir resiko kegagalan dan mendapat hasil yang maksimal.

Setelah dianalisis dan dievaluasi dengan FMEA ditemukan potensi masalah yang dapat terjadi dalam proses bisnis tersebut lalu dilakukan perbaikan atau improvement dengan metode Business Process Improvement (BPI). Business Process Improvement (BPI) adalah metode sistematik yang dikembangkan untuk membantu suatu organisasi membuat peningkatan yang signifikan melalui cara proses operasi pada bisnisnya. Business Process Improvement (BPI) mempunyai 12 tools streamlining atau penyederhanaan yang digunakan untuk memperbaiki efisiensi, efektifitas, dan adaptabilitas dari proses bisnis. Tools streamlining tersebut adalah Bureaucracy Elimination, Duplication Elimination, Valueadded assessment, Simplification, Process cyletime, Error proofing, Upgrading, Simple language, Standardization, Supplier partnerships, Big picture improvement dan Automating and/or mechanization. Improvement yang dilakukan menggunakan Business Process Improvement (BPI) berdasarkan dengan melihat nilai Risk Priority Number (RPN) yang berasal dari perkalian antara nilai tingkat kesalahan (severity), tingkat kejadian (occurrence), dan tingkat terdeteksi (detection) serta penyebab kesalahan dan efek kesalahan dari potensi masalah yang dapat terjadi. Selain itu analisis aktivitas menggunakan value-added digunakan untuk mempermudah penggunaan tools streamlining. Nilai RVA dan BVA akan ditingkatkan nilainya menggunakan tools streamlining, sedangkan nilai NVA akan dilakukan penyederhanaan. Setelah dianalisis dan dilakukan improvement, didapatkan rekomendasi peningkatan proses bisnis yang kemudian dimodelkan kembali dengan Diagram BPMN.

Selanjutnya dilakukan perbadingan antara proses bisnis saat ini (as is) dengan proses bisnis rekomendasi (to be) yang telah dibuat berdasarkan hasil evaluasi. Hasil penelitian ini merupakan perbandingan proses bisnis saat ini (as is) dengan proses bisnis rekomendasi (to be).

Metodologi

Langkah-langkah dalam penelitian ini diawali dengan melakukan studi pustaka untuk mempelajari teori-teori terkait proses bisnis. Proses selanjutnya yaitu wawancara dan observasi untuk mendapatkan informasi dan mengidentifikasi mengenai UB Guest House yang diperlukan seperti struktur organisasi, visi misi dan tujuan, proses bisnis yang berjalan saat ini beserta SOP, permasalahan dan kendala yang sering terjadi dalam setiap proses bisnis. Lalu melakukan identifikasi. Selanjutnya, dilakukan identifikasi proses bisnis mengenai proses bisnis utama dan proses bisnis pendukung.

Penelitian ini berfokus pada proses bisnis utama yang berjalan saat ini maka dilakukan identifikasi proses yang berjalan saat ini berupa alur dari aktivitas dan siapa saja yang terlibat dalam aktivitas tersebut. Setelah itu, dilakukan pemodelan proses bisnis saat ini (as is) yang telah diidentifikasi menggunakan Diagram Business Process Model and Notation (BPMN). Pemodelan tersebut dilakukan menggunakan aplikasi Bizagi yang mencakup alur dari aktivitas, aktor-aktor yang terlibat dan waktu yang diperlukan untuk melakukan aktivitas yang berjalan. Tahap selanjutnya adalah melakukan analisis dan evaluasi proses bisnis menggunakan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Setelah mendapat hasil dari analisis dan evaluasi, dilakukan perbaikan proses bisnis untuk peningkatan atau improvement menggunakan metode Business Process Improvement (BPI).

Perbaikan dilakukan berdasarkan dengan penyebab kesalahan dan efek kesalahan dari potensi masalah yang dapat terjadi pada setiap aktivitas yang berjalan. Perbaikan proses bisnis dilakukan dengan melihat nilai Risk Priority Number (RPN) yang berasal dari perkalian antara nilai tingkat kesalahan (severity), tingkat kejadian (occurrence), dan tingkat terdeteksi (detection). Perbaikan tersebut menghasilkan proses bisnis baru sebagai rekomendasi agar permasalahan dapat diminimalisir dan aktivitas yang berjalan semakin efektif dan efisien. Proses bisnis rekomendasi (to be) tersebut kemudian dilakukan pemodelan menggunakan diagram BPMN yang berupa alur aktivitas baru dan actor yang terlibat serta waktu yang dibutuhkan.

Setelah itu dilakukan simulasi menggunakan Bizagi pada kedua proses bisnis yaitu proses bisnis saat ini (as is) dan proses bisnis rekomendasi (to be). Simulasi yang dilakukan berdasarkan process validation dan time analysis. Setelah simulasi berhasil, dilakukan perbandingan process validation dan time analysis pada kedua proses bisnis tersebut untuk menilai seberapa besar peningkatan atau improvement serta pengaruh lain dari perbaikan yang dilakukan.

Pada tahapan terakhir, dilakukan penarikan kesimpulan-kesimpulan yang berdasarkan oleh hasil dari analisis dan evaluasi proses bisnis yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya. Kemudian selanjutnya memberikan saran berupa rekomendasi perbaikan proses bisnis yang dapat dilakukan agar dapat meningkatkan proses bisnis dan pendapatan UB Guest House.

Hasil Penelitian

Identifikasi yang dilakukan pada setiap proses bisnis utama pada UB Guest House yang mencakup pemesanan dan check-in kamar & ruangan, pemesanan makanan (food & beverage) dan check-out kamar dan ruangan menghasilkan pemodelan proses bisnis yang digambarkan dengan menggunakan Diagram BPMN. Pemodelan pada setiap proses bisnis tersebut digunakan untuk melakukan analisis dan evaluasi terhadap proses bisnis untuk mendapatkan potensi permasalahan yang terjadi beserta efek kesalahan dan akar penyebab permasalahan tersebut dapat terjadi. Didapatkan potensi permasalahan pada ketiga proses bisnis tersebut. Dalam melakukan analisis dan evaluasi menggunakan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) ditemukan beberapa potensi permasalahan yang dapat mengganggu berjalannya proses bisnis tersebut. Dari permasalahan-permasalahan tersebut menghasilkan nilai Risk Priority Number (RPN) sebagai acuan untuk melihat potensi permasalahan yang harus segera dilakukan perubahan.

Pada proses bisnis pemesanan dan check-in kamar & ruangan berdasarkan nilai RPN, potensi permasalahan yang harus segera dilakukan perubahan seperti permasalahan komunikasi dengan tamu terhadap peraturan dan fasilitas yang ada serta informasi lainnya yang dibutuhkan oleh tamu, kesalahan dalam memasukkan data pribadi informasi tamu dan rincian reservasi kedalam sistem oleh resepsionis karena data tersebut dimasukkan berdasarkan formulir pendaftaran yang diisi oleh tamu secara manual (kertas) yang kemudian akan diverifikasi oleh resepsionis dengan menunjukkan kartu tanda pengenal tamu. Hal tersebut membuatnya untuk membutuhkan kertas untuk formulir yang cukup banyak dan tidak efektif, serta memiliki potensi terjadinya masalah lain seperti tidak ditemukannya data tamu ketika proses check-out dan waktu yang lama untuk mencari data tersebut. Masalah lain yang ditemukan adalah terdapat beberapa aktivitas yang berulang yang dapat dilakukan penyederhanaan dan tidak efektif, waktu aktivitas yang lama dan tidak efisien serta terlalu banyak aktor yang terlibat.

Pada proses bisnis pemesanan makanan (food & beverage) berdasarkan nilai RPN, potensi permasalahan yang harus segera dilakukan perubahan seperti tamu memilih menu makanan atau minuman yang tidak tersedia karena bahan baku yang tidak tersedia, potensi kesalahan dalam memasukkan data pemesanan dan porsi beserta nomer meja atau nama tamu sehingga salah dalam membuat pesanan, data tamu tidak ditemukan untuk memasukkan kedalam tagihan kamar, staf yang tidak memumpuni, serta sistem administrasi yang cukup berbelit dan tidak disambutnya tamu oleh staf yang bertugas.

Lalu pada proses bisnis check-out kamar dan ruangan juga teridentifikasi potensi permasalahan yang dapat terjadi. Potensi permasalahan berdasarkan nilai RPN yang harus segera dilakukan perubahan seperti, kesalahan dalam membuat total jumlah tagihan tamu karena kesalahan pendataan tamu ataupun nomor kamar dan perusahaan penanggung jawab tamu tidak melakukan konfirmasi terhadap tamu. Permasalahan lainnya adalah terdapat juga beberapa aktivitas yang berulang yang dapat dilakukan penyederhanaan dan tidak efektif, waktu aktivitas yang lama dan tidak efisien serta terlalu banyak aktor yang terlibat. Setelah dilakukan analisis dan evaluasi menggunakan fmea, dilakukan juga analisis aktivitas dengan dengan menggunakan valueadded, yaitu Real Value Added (RVA) yang mempunyai nilai langsung terhadap tamu, Business Value Added (BVA) yang tidak memiliki nilai langsung terhadap tamu namun diperlukan untuk proses bisnis dan Non Value Added (NVA) yang tidak mempunyai nilai tambah. Pada tabel 1 akan dijelaskan mengenai hasil analisis aktivitas dengan menggunakan value added

Tabel 1. Hasil Analisis Aktivitas Menggunakan Value Added

Pada tabel 1 dapat disimpulkan proses bisnis pemesanan dan check-in kamar & ruangan mempunyai 11 aktivitas RVA, 7 aktivitas BVA dan 9 aktivitas NVA. Pada proses bisnis pemesanan makanan (food & beverage) mempunyai 12 aktivitas RVA, 7 aktivitas BVA dan 4 aktivitas NVA. Sedangkan pada proses bisnis check-out kamar dan ruangan mempunyai 29 aktvitas RVA, 6 aktivitas BVA dan 5 aktivitas NVA.

Selanjutnya dilakukan perbaikan untuk peningkatan atau improvement proses bisnis menggunakan BPI. Terdapat 6 tools streamlining yang sesuai untuk digunakan dalam melakukan perbaikan yaitu, Simplification, Upgrading, Bureaucracy Elimination, Value Added, Standardization dan Supplier Partnership. Berikut adalah tabel hasil perbaikan pada BPI menggunakan tools streamlining.

Tabel 2. Hasil Streamlining

Setelah dilakukan rancangan perbaikan menggunakan metode BPI, tahap selanjutnya adalah membuat pemodelan dari proses bisnis sesuai dengan rancangan perbaikan proses bisnis. Ketiga pemodelan proses bisnis rekomendasi (to be) dibuat dengan Diagram BPMN. Untuk lebih mempermudah dalam melihat perbedaan antara proses bisnis saat ini (as is) dengan proses bisnis rekomendasi (to be), terdapat perbedaan warna yang diterapkan pada proses bisnis rekomendasi (to be) pada aktivitasaktivitas yang mengalami perubahan atau aktivitas baru yang ditambahkan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagian Appendix.

Tahap selanjutnya, dilakukan simulasi proses bisnis utama baik pada proses bisnis (as is) maupun proses bisnis rekomendasi (to be) hasil dari evaluasi. Simulasi dilakukan untuk mengetahui tentang pemodelan proses bisnis tersebut valid atau tidak. Simulasi yang dijalankan pada Bizagi adalah simulasi process validation dan time analysis. Process validation dilakukan untuk mengetahui jumlah task process atau aktivitas yang diperlukan pada setiap proses bisnis beserta jumlah transaksi yang dilakukan ketika awal proses sama dengan jumlah transaksi pada akhir proses. Sedangkan time analysis dilakukan untuk mengetahui waktu yang diperlukan untuk melakukan seluruh aktivitas pada proses bisnis berdasarkan waktu peraktivitas dalam satu kali melakukan proses tersebut (transaksi) atau jumlah waktu yang diperlukan untuk melakukan seluruh transaksi perharinya.

Setelah simulasi berhasil dilakukan pada proses bisnis (as is) dan proses bisnis rekomendasi (to be), akan mendapatkan hasil dari simulasi yang dapat dibandingkan. Berikut adalah tabel mengenai perbandingan jumlah task process

Tabel 3. Perbandingan Jumlah Task Process

Pada tabel 3 dapat diketahui jumlah task process dari proses bisnis rekomendasi (to be) lebih sedikit daripada jumlah task process pada proses bisnis (as is) sehingga mengalami peningkatan dan aktivitas yang dilakukan semakin efektif.

Selanjutnya hasil simulasi pada proses bisnis (as is) dan proses bisnis rekomendasi (to be) pada time analysis akan dilakukan untuk melihat waktu yang dibutuhkan untuk melakukan proses bisnis mulai dari awal hingga semua proses dapat terselesaikan. Berikut adalah tabel perbandingan time analysis dari proses bisnis (as is).

Tabel 4. Perbandingan Simulasi Time Analysis Proses Bisnis Pemesanan Dan Check-In Kamar & Ruangan

Pada Tabel 4 diketahui bahwa terjadi peningkatan mengenai waktu yang dibutuhkan untuk melakukan 1 kali transaksi pada proses bisnis pemesanan dan check-in kamar & ruangan. Rata-rata waktu yang dibutuhkan pada proses bisnis (as is) adalah 6m 38s sedangkan waktu yang dibutuhkan pada proses bisnis rekomendasi (to be) adalah 4m 38s. Terdapat selisih 2m atau sebesar 30.15% antara kedua proses bisnis tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa pada proses bisnis pemesanan dan checkin kamar & ruangan rekomendasi lebih efektif dan efisien dalam melakukan aktivitasnya. Selain itu, beberapa potensi permasalahan pada proses bisnis (as is) yang dapat terjadi dapat diselesaikan dengan proses bisnis rekomendasi (to be).

Potensi permasalahan yang dapat diselesaikan seperti mencegah kesalahan administrasi dan keuangan berupa kesalahan dalam input data dan mengurangi penggunaan kertas, peningkatan pelayanan kepada tamu berupa waktu dan proses yang lebih sedikit dan menyampaikan informasi secara lengkap sesuai SOP, lalu bagian atau staf yang terlibat dalam proses tersebut dapat diminimalisir sehingga staf tersebut dapat melakukan pekerjaan lain atau pengeluaran (cost) dapat dikurangi.

Tabel 5. Perbandingan Simulasi Proses Bisnis Pemesanan Makanan (Food & Beverage)

Pada Tabel 5 diketahui bahwa terjadi peningkatan mengenai waktu yang dibutuhkan untuk melakukan 1 kali transaksi pada proses bisnis pemesanan makanan (food & beverage). Rata-rata waktu yang dibutuhkan pada proses bisnis (as is) adalah 34m 35s sedangkan waktu yang dibutuhkan pada proses bisnis rekomendasi (to be) adalah 34m 17s. Terdapat selisih 18s atau sebesar 0.87% antara kedua proses bisnis tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa pada proses bisnis pemesanan makanan (food & beverage) rekomendasi lebih efektif dan efisien dalam melakukan aktivitasnya. Selain itu, beberapa potensi permasalahan pada proses bisnis (as is) yang dapat terjadi dapat diselesaikan dengan proses bisnis rekomendasi (to be).

Potensi permasalahan yang dapat diselesaikan seperti mencegah terjadinya kesalahan administrasi dan keuangan pada saat membuat tagihan, proses produksi makanan dan minuman mempunyai kualitas yang lebih terjamin karena menerapkan supplier partnership, peningkatan pelayanan kepada tamu serta bagian atau staf yang terlibat dalam proses tersebut dapat diminimalisir sehingga staf tersebut dapat melakukan pekerjaan lain atau pengeluaran (cost) dapat dikurangi.

Tabel 6. Perbandingan Simulasi Proses Bisnis Check-Out Kamar Dan Ruangan

Pada Tabel 6 diketahui bahwa terjadi peningkatan mengenai waktu yang dibutuhkan untuk melakukan 1 kali transaksi pada proses bisnis check-out kamar dan ruangan. Rata-rata waktu yang dibutuhkan pada proses bisnis (as is) adalah 9m 35s sedangkan waktu yang dibutuhkan pada proses bisnis rekomendasi (to be) adalah 6m 58s. Terdapat selisih 2m 37s atau sebesar 27.30% antara kedua proses bisnis tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa pada proses bisnis check-out kamar dan ruangan rekomendasi lebih efektif dan efisien dalam melakukan aktivitasnya. Selain itu, beberapa potensi permasalahan pada proses bisnis (as is) yang dapat terjadi dapat diselesaikan dengan proses bisnis rekomendasi (to be).

Potensi permasalahan yang dapat diselesaikan seperti mencegah terjadinya kesalahan administrasi dan keuangan pada saat membuat tagihan dan pembayaran, konfirmasi kepada perusahaan tidak membutuhkan waktu yang lama dan meminimalisir perusahaan penanggung jawab tidak melakukan konfirmasi, peningkatan pelayanan kepada tamu karena tidak ada aktivitas yang berbelit, permasalahan dalam berkomunikasi atau melakukan aktivitas lainnya juga dapat diminimalisir dengan direkomendasikan pembuatan SOP baru serta bagian atau staf yang terlibat dalam proses tersebut dapat diminimalisir sehingga staf tersebut dapat melakukan pekerjaan lain atau pengeluaran (cost) dapat dikurangi.

Kesimpulan

Proses bisnis utama yang berjalan pada UB Guest House saat ini masih memiliki beberapa kekurang yang dapat ditingkatkan agar semakin bernilai, membuat pelayanan tamu semakin meningkat serta aktivitas dapat berjaln semakin efektif dan efisien. Analisis dan evaluasi yang dilakukan pada proses bisnis saat ini (as is) menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) menghasilkan beberapa potensi masalah yang dapat mengganggu jalannya proses bisnis dan dapat mengurangi pelayanan kepada tamu. Kemudian perbaikan yang dilakukan demi meningkatkan atau improvement pada proses bisnis menggunakan Business Process Improvement (BPI) dinilai dapat membantu UB Guest House dalam mencapai tujuan dan visi misi menjadi lebih baik lagi. Perbaikan dilakukan berdasarkan nilai RPN yang telah dihitung pada metode FMEA dan melihat efek dari permasalahan yang ditimbulkan serta menganalisis akar permasalahan mengapa potensi permasalahan tersebut dapat terjadi. Setelah dilakukan perbaikan proses bisnis sesuai dengan rancangan perbaikan, dilakukan simulasi pada proses bisnis saat ini (as is) dan proses bisnis rekomendasi (to be). Simulasi yang dilakukan untuk mengetahui perbandingan proses bisnis menghasilkan proses bisnis rekomendasi (to be) lebih baik dibandingkan dengan proses bisnis saat ini (as is). Aktvitas yang lebih sedikit dan efektif meminimalisir perulangan aktivitas dan menghilangkan aktivitas NVA. Waktu yang diperlukan dalam melakukan proses bisnis utama juga berkurang dan semakin efisien. Aktor yang terlibat pada proses bisnis saat ini (as is) juga dapat diminimalisir sehingga staf dapat melakukan tugas lain atau pengeluaran (cost) dapat dikurangi. Selain itu, jika diterapkan proses bisnis rekomendasi pada UB Guest House diharapkan permasalahan-permasalahan yang terjadi seperti pelayanan yang kurang maksimal, sistem yang tidak terintegrasi, aktivitas yang berbelit dan memerlukan waktu lama serta administrasi dan pengarsipan yang kurang baik, juga dapat diminimalisir dengan melakukan peningkatan yang dilakukan pada proses bisnis utama pada UB Guest House.

Proses Bisnis Pemesanan Dan Check-In Kamar & Ruangan (As Is)

Proses Bisnis Pemesanan Dan Check-In Kamar & Ruangan (To Be)

Daftar Pustaka:

  • Kenneth E. Kendall. 2007. Analisis Dan Perancangan Sistem Edisi Kelima Jilid 1. Indeks.
  • Mathias Weske. 2007. Business Process Management (Concept, Language, Architectures). Springer
  • Martin Owen & Jog Raj. 2003. BPMN and Business Process Management. Popkin Software

 480 total views,  2 views today

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *