DSS – Pertemuan 02 – Materi

Gede Surya Mahendra - Home

DSS – Pertemuan 02 – Materi

Stiki Logo - Short

Mata Kuliah : Decision Support System

Kode Mata Kuliah : MKB-219

Program Studi : Teknik Informatika

STIMIK STIKOM Indonesia

PERTEMUAN 02

Untuk tampilan lebih baik, dapat mendownload file PDF pada link yang tersedia

Kemampuan Akhir yang Diharapkan:

Mahasiswa dapat memahami konsep–konsep dasar Decision Support System

Bahan Kajian:

  • Ketepatan memahami tipe-tipe keputusan dalam kontrol operasional, kontrol manajerial, perencanaan strategis, serta dukungan teknologi yang diperlukan
  • Memahami konsep-konsep dasar mengenai Decision Support System.
  • Memahami berbagai tipe Decision Support System yang digunakan dalam praktik
  • Memahami kapan Decision Support System tertentu dapat diterapkan pada suatu tipe masalah spesifik

Metode Pembelajaran:

  • Pembelajaran diskusi dan discovery terkait materi konsep dasar Decision Support System (DSS)

Pengalaman Pembelajaran:

  • Memahami tipe-tipe keputusan dalam kontrol operasional, kontrol manajerial, perencanaan strategis, serta dukungan teknologi yang diperlukan
  • Memahami konsep-konsep dasar mengenai Decision Support System.
  • Memahami berbagai tipe Decision Support System yang digunakan dalam praktik
  • Memahami kapan Decision Support System tertentu dapat diterapkan pada suatu tipe masalah spesifik

Kriteria Penilaian dan Indikator:

  • Kemampuan memahami tipe-tipe keputusan dalam kontrol operasional, kontrol manajerial, perencanaan strategis, serta dukungan teknologi yang diperlukan, konsep dasar DSS dan contoh penerapannya secara spesifik sesuai dengan materi terkait.

 

Download File PDF 

Download File Slide Presentasi PDF 

 

TINJAUAN

  1. Sistem Informasi
  2. Sistem Pemrosesan Transaksi
  3. Sistem Informasi Manajemen
  4. Sistem Otomasi Perkantoran
  5. Sistem Pendukung Keputusan
    1. Kerangka Kerja DSS
    2. Tujuan DSS
    3. Struktur Masalah
    4. Dukungan Keputusan
    5. Efektivitas Keputusan
    6. DSS Berdasarkan Tingkat Teknologi
    7. DSS Berdasarkan Tingkat Dukungan
    8. DSS Berdasarkan Tingkat Struktur
    9. Karakteristik pada DSS
    10. Penerapan DSS
    11. Dampak Pemanfaatan DSS
  6. Sistem Informasi Eksekutif
  7. Sistem Pendukung Kelompok (GSS)
  8. Sistem Pendukung Cerdas
  9. Perbedaan MIS dan DSS
  10. Hubungan antara Decision Support System dan Expert System
  11. Dukungan dari Pengambilan Keputusan
    1. Perbedaan DSS dan ES
    2. Proses Pengambilan Keputusan

MATERI

Sistem Informasi

Suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial, dan merupakan kegiatan strategi dari suatu organisasi, serta menyediakan laporan-laporan yang diperlukan oleh pihak luar. Berdasarkan dukungan kepada pemakainya, sistem informasi dibagi menjadi:

  1. Sistem Pemrosesan Transaksi (Transaction Processing System/ TPS)
  2. Sistem Informasi Manajemen (Management Information System/ MIS)
  3. Sistem Otomasi Perkantoran (Office Automation System/OAS)
  4. Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System/ DSS)
  5. Sistem Informasi Eksekutif (Executive Information System/ EIS)
  6. Sistem Pendukung Kelompok (Group Support System/ GSS)
  7. Sistem Pendukung Cerdas (Intelligent Support System/ ISS)

Mengingat bahwa EIS, bss, dan MIS digunakan untuk mendukung manajemen, maka ketiga sistem tetsebut sering disebut sistem pendukung manajemen (management support system/ MSS). Aspek pengambilan keputusan dapat dilihat dalam Tabel 2. 1 berikut:

Tabel 2. Aspek Pengambilan Keputusan

Tahap Deskripsi Tools
Tahap awal Menghitung “angka krisis”, merangkum, mengatur. Kalkulator, program komputer awal, model statistik, model ilmu manajemen sederhana.
Tahap menengah Temukan, atur, dan tampilkan informasi yang relevan dengan keputusan. Sistem manajemen database, MIS, sistem pengarsipan. Model ilmu manajemen.
Tahap sekarang Lakukan perhitungan yang relevan dengan keputusan pada informasi yang relevan dengan keputusan; mengatur dan menampilkan hasilnya. Pendekatan berbasis kueri dan ramah pengguna. Analisis “What-if”. Model keuangan, spreadsheet, eksplorasi tren, model riset operasi, sistem CAD, DSS.
Berinteraksi dengan pengambil keputusan untuk memfasilitasi perumusan dan pelaksanaan langkah intelektual dalam proses pengambilan keputusan. ES; EIS.
Era Baru Situasi keputusan yang kompleks dan tidak jelas, berkembang menjadi pengambilan keputusan kolaboratif dan pembelajaran mesin. Generasi kedua ES, GDSS, komputasi saraf.

Sistem Pemrosesan Transaksi

Sistem Pemrosesan Transaksi (Transactional Processing System/ TPS) merupakan sistem informasi yang biasanya diimplementasikan pertama kali di suatu organisasi sebelum inengimplementasikan sistem informasi lainnya. TPS menfokuskan pada data transaksi. Sesuai namanya, sistem informasi tersebut digunakan untuk menghimpun, menyimpan, dan memproses data transaksi, dan kadangkala mengendalikan keputusan yang merupakan bagian dari transaksi.

Contoh dari TPS adalah sistem informasi untuk mencatat transaksi penjualan, pemesanan tiket pesawat, dan lain-lain. Contoh pengendalian keputusan dalam TPS adalah sistem pemrosesan transaksi yang sekaligus bisa memvalidasi keabsahan kartu kredit atau mencarikan rute pesawat terbang yang terbaik sesuai kebutuhan pelanggan.

Karakteristik sistem informasi yang termasuk TPS adalah sebagai berikut.

  1. Jumlah data yang diproses sangat besar
  2. Sumber data umumnya internal dan keluaran dimaksudkan terutama untuk pihak internal (meskipun bisa juga diperuntukkan bagi mitra kerja)
  3. Pemrosesan informasi dilakukan secara teratur: harian, mingguan, dan sebagainya
  4. Kapasitas penyimpan (basis data) besar
  5. Kecepatan pemrosesan yang diperlukan tinggi karena volume yang besar
  6. Umumnya memantau dan mengumpulkan data masa lalu
  7. Masukan dan keluatan terstruktur. Mengingat hahwa data yang diproses cukup stabil, maka data difotmat dalam suatu standar
  8. Level kerincian yang tinggi mudah terlihat terutama pada masukan, tetapi seringkali juga pada keluaran
  9. Komputasi tidak numit (menggunakan matematika sederhana atau operasi statistik)
  10. Memerlukan keandalan yang tinggi
  11. Pemrosesan terhadap permintaan merupakan suatu keharusan. Pemakai bisa melakukan permintaan atas basis data

Gambar 2. 1 berikut menggambarkan model konseptual dari TPS.

Gambar 2. Model Konseptual TPS

Dalam hal pemrosesan yang dilakukan, TPS memiliki 2 cara, yaitu:

  1. Pemrosesan batch

Transaksi ditumpuk dahulu dan kemudian diproses belakangan pada waktu tertentu, misalnya pada waktu sore hari atau malam hari. Kelemahan pemrosesan batch adalah pembuatan basis data yang tidak pernah dilakukan dalam keadaan terkini karena seringkali terdapat data transaksi yang terlambat untuk dimasukkan ke dalam basis data.

  1. Pemrosesan online

Tidak ada penundaan pemrosesan. Setiap transaksi yang sudah terjadi segera dibukukan. Dengan demikian, data selalu ada dalam keadaan mutakhir.

Sistem Informasi Manajemen

Sistem Informasi Manajemen (SIM) / Management Information System adalah sistem informasi yang digunakan untuk menyajikan informasi agar mendukung operasi, manajemen, dan pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi. SIM menghasilkan informasi untuk memantau kinerja, memelihara koordinasi, dan menyediakan informasi untuk operasi organisasi. Pada umumnya, SIM mengambil data dari sistem pemrosesan transaksi. SIM sering disebut sistem peringatan manajemen (management alerting system) karena sistem itu memberikan peringatan kepada pemakai (umumnya manajemen) atas munculnya masalah maupun peluang. Selain itu, SIM disebut juga sebagai sistem pelaporan manajemen atau management reporting system.

Karakteristik dari sistem informasi yang termasuk SIM adalah:

  1. Beroperasi pada tugas-tugas yang terstruktur, yakni pada lingkungan yang telah mendefinisikan hal-hal berikut secara tegas dan jelas, prosedur operasi, aturan pengambilan keputusan, dan arus informasi
  2. Meningkatkan efisiensi dengan mengurangi biaya
  3. Menyediakan laporan dan kemudahan akses yang berguna dalam pengambilan keputusan, tetapi tidak secara langsung (manajer menggunakan laporan dan informasi dan membuat kesimpulan-kesimpulan sendiri untuk mengambil keputusan).

Ada beberapa macam laporan yang bisa dihasilkan oleh SIM, di antaranya:

  1. Laporan periodik, yakni laporan yang dihasilkan dalam selang waktu tertentu, seperti harian, mingguan, bulanan, kwartalan, dan sebagainya.
  2. Laporan ikhtisar adalah laporan yang memberikan ringkasan mengenai sejumlah data/informasi.
  3. Laporan perkecualian adalah laporan yang hanya muncul bila terjadi keadaan yang tidak normal. Sebagai contoh, manajer pembelian mungkin memerlukan laporan pengiriman barang dari pemasok yang sudah terlambat satu minggu. Laporan itu hanya muncul bila keadaan yang diminta terpenuhi.
  4. Laporan perbandingan adalah laporan yang menunjukkan dua atau lebih himpunan informasi yang serupa dengan maksud untuk dibandingkan
  5. SIM terkadang juga menyediakan laporan yang tergolong sebagai demand (Ad Hoc) report, yaitu jenis laporan yang dapat diminta sewaktu-waktu dan diatur tata letak informasinya oleh pemakai sendiri sesuai keperluan

Sistem Otomasi Perkantoran

Sistem Otomasi Perkantoran/ Office Automation Sistem (OAS) merupakan sistem yang memberikan fasilitas tugas-tugas pemrosesan informasi sehari-hari di dalam perkantoran dan organisasi bisnis. Sistem itu menyediakan aneka ragam perangkat untuk memroses informasi, seperti pengolah lembar kerja (spreadsheet), pengolah kata (word processor), pengolah grafik, aplikasi presentasi, pengaksesan basis data personal, surat elektronis (e-mail), dan surat bersuara (v-mail atau voice mail), bahkan telekonferensi. Pengguna sistem tersebut pada prinsipnya adalah semua personil dalam organisasi, baik staf maupun yang termasuk dalam kategori level manajemen.

Sistem Pendukung Keputusan

Sistem Pendukung Keputusan/ Decision Support System (DSS) adalah sistem berbasis komputer yang interaktif, yang membantu pengambil keputusan dalam menggunakan data dan model untuk menyelesaikan masalah yang tidak terstruktur. Sistem pendukung ini membantu pengambilan keputusan manajemen dengan menggabungkan data, model-model dan alat-alat analisis yang komplek, serta perangkat lunak yang akrab dengan tampilan pengguna ke dalam satu sistem yang memiliki kekuatan besar (powerful) yang dapat mendukung pengambilan keputusan yang semi atau tidak terstruktur. DSS menyajikan kepada pengguna satu perangkat alat yang fleksibel dan memiliki kemampuan tinggi untuk analisis data penting. Dengan kata lain, DSS menggabungkan sumber daya intelektual seorang individu dengan kemampuan komputer dalam rangka meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. DSS diartikan sebagai tambahan bagi para pengambil keputusan, untuk memperluas kapabilitas, namun tidak untuk menggantikan pertimbangan manajemen dalam pengambilan keputusannya.

Konsep DSS dimulai pada akhir tahun 1960-an dengan timesharing komputer. Untuk pertama kalinya seseorang dapat berinteraksi langsung dengan komputer tanpa harus melalui spesialis informasi. Baru pada tahun 1971, istilah DSS diciptakan oleh G. Anthony Gorry dan Michael S. Scott Morton, keduanya professor MIT. Mereka merasa perlunya suatu kerangka kerja untuk mengarahkan aplikasi komputer kepada pengambilan keputusan manajemen dan mengembangkan apa yang telah dikenal sebagai Garry & Scott Morton Grid. Matrik (Grid) ini didasarkan pada konsep Simon mengenai keputusan terprogram dan tak terprogram serta tingkat-tingkat manajemen Robert N. Anthony.

Gory dan Scott Morton menggambarkan jenis-jenis keputusan menurut struktur masalah, dan terstruktur hingga tidak terstruktur. Anthony menggunakan nama perencanaan strategis, pengendalian manajemen, dan pengendalian operasional untuk menjelaskan tingkat manajemen puncak, menengah dan bawah.

Tahap-tahap pengambilan keputusan Simon digunakan untuk menentukan struktur masalah, masalah terstruktur merupakan suatu masalah yang memiliki struktur pada tiga tahap pertama Simon, yaitu intelijen, rancangan, dan pilihan. Jadi, dapat dibuat algoritma, atau alternatif diidentifikasi dan dievaluasi, serta suatu solusi dipilih. Masalah tak terstruktur, sebaliknya, merupakan suatu masalah yang sama sekali tidak memiliki struktur pada tiga tahap Simon di atas. Masalah semi terstruktur merupakan masalah yang memiliki struktur hanya pada satu atau dua tahap Simon.

Gory dan Scoot Morton memisahkan masalah yang telah, pada saat itu, berhasil dipecahkan dengan komputer dari masalah yang belum terkena pengolahan komputer. Area yang berhasil dipecahkan dengan komputer dinamakan sistem keputusan terstruktur (structure decision system-SDS), dan area yang belum terkena pengolahan komputer dinamakan sistem pendukung keputusan (decision support system-DSS). Gory dan Scott Morton awalnya menggunakan istilah DSS hanya untuk aplikasi komputer di masa depan. Selanjutnya istilah tersebut diterapkan pada semua aplikasi komputer yang didedikasikan untuk dukungan keputusan – baik sekarang maupun masa depan.

Decision Support System dimaksudkan untuk melengkapi sistem informasi manajemen dalam meningkatkan pengambilan keputusan. Sistem informasi manajemen terutama menyajikan informasi mengenai kinerja aktivitas untuk membantu manajemen memonitor dan mengendalikan kegiatan. Sistem informasi manajemen ini umumnya menghasilkan pelaporan yang terjadwal secara regular dan tetap, berdasarkan data yang diperoleh dan diikhtisarkan dari sistem pemrosesan kegiatan atau transaksi yang dilaksanakan. Format atau bentuk dari pelaporan-pelaporan ini umumnya sudah ditentukan sebelumnya (baku). Satu bentuk pelaporan berbasiskan sistem informasi manajemen mungkin menunjukkan suatu ikhtisar realisasi penyerapan anggaran per bulan untuk setiap satuan kerja pada suatu instansi. Kadangkala laporan sistem informasi manajemen ini merupakan laporan eksepsi (exception reports), yaitu hanya menyoroti kondisi-kondisi yang khusus. Sistem informasi manajemen yang tradisional umumnya menyajikan pelaporan yang tercetak (hard copy reports).

Dewasa ini, pelaporan yang semacam itu dapat diperoleh secara on-line melalui intranet dan mungkin lebih banyak lagi laporan yang dapat dihasilkan berdasarkan kebutuhan. Jika Management Information System (MIS) menyajikan kepada penggunanya data atau informasi untuk pengambilan keputusan yang sudah pasti dan tetap (terstruktur atau rutin), maka DSS menyajikan seperangkat kemampuan untuk keputusan yang sifatnya tidak terstruktur, di mana DSS lebih menekankan pada pengambilan keputusan atas situasi yang dengan cepat mengalami perubahan, kondisi yang memerlukan fleksibilitas, dan berbagai keputusan untuk respon yang segera.

Kerangka Kerja DSS

Tabel 2. Kerangka Kerja DSS

Tipe Kontrol
Tipe Keputusan Kontrol Operasional Kontrol Manajerial Perencanaan Strategis Dukungan yang Dibutuhkan
Terstruktur Piutang, entri pesanan Analisis anggaran, peramalan jangka pendek, laporan personel, make-or-buy Manajemen keuangan (investasi), lokasi gudang, sistem distribusi MIS, model penelitian operasional, pemrosesan transaksi
Semi Terstruktur Penjadwalan produksi, kontrol inventaris Evaluasi kredit, persiapan anggaran, tata letak pabrik, penjadwalan proyek, desain sistem penghargaan Membangun pabrik baru, merger dan akuisisi, perencanaan produk baru, perencanaan kompensasi, perencanaan jaminan kualitas DSS
Tidak terstruktur Memilih sampul majalah, membeli perangkat lunak, menyetujui pinjaman Bernegosiasi, merekrut seorang eksekutif, membeli perangkat keras, melobi Perencanaan R&D, pengembangan teknologi baru, perencanaan tanggung jawab sosial DSS, ES, JST
Dukungan yang Diperlukan MIS, ilmu manajemen Ilmu manajemen, DSS, ES, EIS EIS, ES, jaringan saraf

Tujuan DSS

Perintis DSS yang lain Peter G. W. Keen, bekerjasama dengan Scott Morton mendefinisikan tiga tujuan yang harus dicapai DSS. Tujuan-tujuan ini berhubungan dengan tiga prinsip dasar dari konsep DSS – struktur masalah, dukungan keputusan, dan efektivitas keputusan. Mereka percaya bahwa DSS harus:

  1. Membantu manajer dalam pengambilan keputusan atas masalah semiterstruktur.
  2. Memberikan dukungan atas pertimbangan manajer dan bukannya dimaksudkan untuk menggantikan fungsi manajer.
  3. Meningkatkan efektivitas keputusan yang diambil manajer lebih daripada perbaikan efisiensinya.
  4. Kecepatan komputasi. Komputer memungkinkan para pengambil keputusan untuk melakukan banyak komputasi secara cepat dengan biaya yang rendah.
  5. Peningkatan produktivitas. Membangun satu kelompok pengambil keputusan, terutama para pakar, bisa sangat mahal. Pendukung terkomputerisasi bisa mengurangi ukuran kelompok dan memungkinkan para anggotanya untuk berada di berbagai lokasi yang berbeda-beda (menghemat biaya perjalanan). Selain itu, produktivitas staf pendukung (misalnya analis ketuangan dan hukum) bisa ditingkatkan. Produktivitas juga bisa ditingkatkan menggunakan peralatan optimalisasi yang menentukan cara terbaik untuk menjalankan sebuah bisnis.
  6. Dukungan kualitas. Komputer bisa meningkatkan kualitas keputusan yang dibuat. Sebagai contoh, semakin banyak data yang diakses. makin banyak juga alternatif yang bisa dievaluasi. Analisis risiko bisa dilakukan dengan cepat dan pandangan dari para pakar (beberapa dari mereka berada di lokasi yang jauh) bisa dikumpulkan dengan cepat dan dengan biaya yang lebih rendah. Keahlian bahkan bisa diambil langsung dari sebuah sistem komputer melalui metode kecerdasan tiruan. Dengan kompuler, para pengambil keputusan bisa melakukan simulasi yang kompleks, memeriksa banyak skenario yang memungkinkan, dan menilai berbagai pengaruh secara cepat dan ekonomis. Semua kapabilitas tersebut mengarah kepada keputusan yang lebih baik.
  7. Berdaya saing. Manajemen dan pemberdayaan sumber daya perusahaan. Tekanan persaingan menyebabkan tugas pengambilan keputusan menjadi sulit. Persaingan didasarkan tidak hanya pada harga, tetapi juga pada kualitas, kecepatan, kustomasi produk, dan dukungan pelanggan. Organisasi harus mampu secara sering dan cepat mengubah mode operasi, merekayasa ulang proses dan struktur, memberdayakan karyawan, serta berinovasi. Teknologi pengambilan keputusan bisa menciptakan pemberdayaan yang signifikan dengan cara memperbolehkan seseorang untuk membuat keputusan yang baik secara cepat, bahkan jika mereka memiliki pengetahuan yang kurang.
  8. Mengatasi keterbatasan kognitif dalam pemrosesan dan penyimpanan. Otak manusia memiliki kemampuan yang terbatas untuk memproses dan menyimpan informasi. Orang-orang kadang sulit mengingat dan menggunakan sebuah informasi dengan cara yang bebas dari kesalahan.

Struktur Masalah

Sulit untuk menemukan masalah yang sepenuhnya terstruktur atau takterstruktur. Sebagian besar bersifat semi-terstruktur yang merupakan area kelabu Simon. Ini berarti bahwa DSS diarahkan pada area tempat sebagian besar masalah berbeda.

 

Dukungan Keputusan

Decision Support System tidak dimaksudkan untuk menggantikan manajer. Komputer dapat diterapkan pada bagian masalah yang terstruktur, tetapi manajer bertanggung jawab atas bagian yang tak terstruktur – menerapkan penilaian atau intuisi, dan melakukan analisis. Manajer dan komputer bekerjasama sebagai tim pemecahan masalah dalam memecahkan masalah yang berbeda di area semi terstruktur yang luas.

 

Efektivitas Keputusan

Tujuan dari DSS bukanlah untuk membuat proses pengambilan keputusan seefisien mungkin. Waktu manajer berharga dan tidak boleh terbuang, tetapi manfaat utama menggunakan DSS adalah keputusan yang lebih baik. Ketika membuat keputusan, manajer tidak selalu mencoba yang terbaik. Sejumlah model matematika akan melakukannya untuk manajer. Namun, dalam banyak kasus manajerlah yang harus memutuskan alternatif mana yang terbaik. Manajer mungkin saja menghabiskan waktu ekstra untuk memperluas solusi sehingga mencapai optimum, tetapi ketelitian yang meningkat senilai dengan waktu dan usaha yang telah dikeluarkan. Manajer menggunakan pertimbangan dalam menentukan kapan suatu keputusan akan berkontribusi pada suatu Solusi masalah.

DSS Berdasarkan Tingkat Teknologi

Ditinjau dari tingkat teknologinya, DSS dibagi menjadi 3, yaitu:

  1. DSS spesifik

DSS spesifik bertujuan membantu memecahkan suatu masalah dengan karakteristik tertentu. Misalnya, DSS penentuan harga satuan barang

  1. Pembangkit DSS

Suatu software yang khusus digunakan untuk membangun dan mengembangkan DSS. Pembangkit DSS akan memudahkan perancang dalam membangun DSS spesifik

  1. Perlengkapan DSS

Berupa software dan hardware yang digunakan atau mendukung pembangunan DSS spesifik maupun pembangkit DSS

DSS Berdasarkan Tingkat Dukungan

Berdasarkan tingkat dukungannya, DSS dibagi menjadí 6, yaitu:

  1. Retrieve Information Elements

Inilah dukungan terendah yang bisa diberikan oleh DSS, yakni berupa akses selektif terhadap informasi. Misalkan manajer bermaksud mencari tahu informasi mengenai data penjualan atas suatu area pemasaran tertentu.

  1. Analyze Entire File

Dalam tahapan ini, para manajer diberi akses untuk melihat dan menganalisis file secara lengkap. Misalnya, manajer bisa membuat laporan khusus penilaian persediaan dengan melihat file persediaan atau manajer bisa memperoleh laporan gaji bulanan dari file penggajian.

  1. Prepare Reports from Multiple Files

Dukungan seperti ini cenderung dibutuhkan mengingat para manajer berhubungan dengan banyak aktivitas dalam satu momen tertentu. Contoh tahapan ini antara lain kemampuan melihat laporan rugi-laba, analisis penjualan produk per pelanggan, dan lain-lain.

  1. Estimate Decision Consequences

Dalam tahapan ini, manajer dimungkinkan untuk melihat dampak dari setiap keputusan yang mungkin diambil. Misalnya, manajer dimungkinkan memasukkan unsur harga dalam sebuah model untuk melihat pengaruhnya terhadap laba usaha. Model akan memberikan masukan. Sebagai contoh, jika harga diturunkan menjadi Rp25.000,-, maka keuntungan akan meningkat Rp5.000.000,-. Model tersebut tidak bisa menentukan apakah harga Rp25.000,- itu adalah harga yang terbaik. Hanya diberikan informasi mengenai apa yang mungkin jika keputusan harga tersebut diambil. Oleh karena itu, model tersebut Cocok jika digunakan untuk menguji probabilitas yang subjektif atau untuk analisis sensitivitas.

  1. Propose Decision

Dukungan di tahapan ini sedikit lebih maju lagi. Suatu alternatif keputusan bisa disodorkan ke hadapan manajer untuk dipertimbangkan. Contoh penerapannya antara lain manajer pabrik yang memasukkan data mengenai pabrik dan peralatan yang dimilikinya sehingga DSS akan mampu menentukan rancangan tata letak (lay out) yang paling efisien.

  1. Make Decision

Ini adalah jenis dukungan yang sangat dinarapkan dari DSS. Tahapan ini akan memberikan sebuah keputusan yang tinggal menunggu legitimasi dari manajer untuk dijalankan.

DSS Berdasarkan Tingkat Struktur

Keputusan yang diambil untuk menyelesaikan suatu masalah dilihat dari keterstrukturannya yang bisa dibagi menjadi:

  1. Keputusan terstruktur (structured decision)

Keputusan terstruktur adalah keputusan yang dilakukan secara berulang-ulang dan bersifat rutin. Prosedur pengambilan keputusan sangatlah jelas. Keputusan tersebut terutama dilakukan pada manajemen tingkat bawah. Misalnya, keputusan pemesanan barang dan keputusan penagihan piutang

  1. Keputusan semiterstruktur (semistructured decision)

Keputusan semiterstruktur adalah keputusan yang memiliki dua sifat. Sebagian keputusan bisa ditangani oleh komputer dan yang lain tetap harus dilakukan oleh pengambil keputusan. Prosedur dalam pengambilan keputusan tersebut secara garis besar sudah ada, tetapi ada beberapa hal yang masih memerlukan kebijakan dari pengambil keputusan. Biasanya, keputusan semacam ini diambil oleh manajer level menengah dalam suatu organisasi. Contoh keputusan jenis ini adalah pengevaluasian kredit, penjadwalan produksi, dan pengendalian persediaan.

  1. Keputusan tak terstruktur (unstructured decision)

Keputusan tak terstruktur adalah keputusan yang penanganannya rumit karena tidak terjadi berulang-ulang atau tidak selalu terjadi. Keputusan tersebut menuntut pengalaman dan berbagai sumber yang bersifat eksternal. Keputusan tersebut umumnya terjadi pada manajemen tingkat atas. Contohnya adalah keputusan untuk pengembangan teknologi baru, keputusan untuk bergabung dengan perusahaan lain, dan perekrutan eksekutif

Karakteristik pada DSS

  1. Dukungan kepada pengambil keputusan, terutama pada situasi semi terstruktur dan tak terstruktur, dengan menyertakan penilaian manusia dan informasi terkomputerisasi. Masalah-masalah tersebut tidak bisa dipecahkan oleh sistem komputer lain atau oleh metode atau alat kuantitatif standar.
  2. Dukungan untuk semua level manajerial, dari eksekutif puncak sampai manajer lini.
  3. Dukungan untuk individu dan kelompok. Masalah yang kurang terstruktur sering memerlukan keterlibatan individu dari departemen dan tingkat organisasional yang berbeda atau bahkan dari organisasi lain.
  4. Dukungan untuk keputusan independen dan/atau sekuensial. Keputusan bisa dibuat satu kali, beberapa kali, atau berulang (dalam interval yang sama).
  5. Dukungan di semua fase proses pengambilan keputusan: inteligensi, desain, pilihan, dan implementasi.
  6. Dukungan di berbagai proses dan gava pengamhilan keputusan
  7. Adaptivitas sepanjang waktu. Pengambil keutusan seharusnva reaktif, bisa menghadapi perubahan kondisi secara cepat, dan mengadaptasi DSS untuk memenuhi perubahan tersebut. DSS bersifat fleksibel. Oleh karena itu, pengguna bisa menambahkan, menghapus, menggabungkan, mengubah. atau menyusun kembali elemen-elemen dasar. DSS juga fleksibel dalam hal bisa dimodifikasi untuk memecahkan masalah lain yang sejenis.
  8. Pengguna merasa “seperti di rumah”. Ramah-pengguna, kapabilitas grafis yang sangat kuat, dan antarmuka manusia-mesin yang interaktif dengan satu bahasa alami bisa sangat meningkatkan efektivitas DSS.
  9. Peningkatan efektivitas pengambilan keputusan (akurasi, timelines, kualitas) dibandingkan terhadap efisiensinya (biaya pengambilan keputusan). Ketika DSS disebarkan, pengambilan keputusan sering membutuhkan waktu lebih lama, tetapi hasilnya lebih baik.
  10. Kontrol penuh oleh pengambil keputusan terhadap semua langkah proses pengambilan keputusan dalam memccahkan suatu masalah. DSS secara khusus menekankan untuk inendukung pengambilan keputusan. bukannya menggantikan.
  11. Pengguna akhir bisa mengembangkan dan memodifikasi sendiri sistem sederhana. Sistem yang lebih besar bisa dibangun dengan bantuan ahli sistem informasi. Perangkat lunak OLAP dalam kaitannya dengan data warehouse memperbolehkan pengguna untuk membangun DSS yang cukup besar dan kompleks.
  12. Biasanya, model-model digunakan untuk menganalisis situasi pengambilan keputusan. Kapabilitas pemodelan memungkinkan eksperimen dengan berbagai strategi yang berbeda di bawah konfigurasi yang berbeda
  13. Akses disediakan untuk berbagai sumber data, format, dan tipe, mulai dari sistem informasi geografis (GIS) sampai sistem berorientasi-objek.
  14. Dapat digunakan sebagai alat standalone oleh seorang pengambil keputusan pada satu lokası atau didistribusikan di suatu organisasi secara keseluruhan dan di beberapa organisasi sepanjang rantai persediaan. Dapat diintegrasikan dengan DSS lain dan atau aplikasi lain, scrta bisa didistribusikan secara internal dan eksternal menggunakan networking dan teknologi Web.

Karakteristik dari DSS tersebut memungkinkan para pengambil keputusan untuk membuat keputusan yang lebih baik dan lebih konsisten dalam satu cara yang dibatasi oleh waktu.

Penerapan DSS

Decision Support System banyak diterapkan di organisasi-organisasi yang sudah mapan. Banyak cara yang digunakan untuk menerapkan DSS guna membantu mempertajam proses pengambilan keputusan. Kapabilitas yang melekat pada DSS sangat membantu organisasi-organisasi yang menggunakannya untuk memungkinkan terciptanya koordinasi proses kegiatan baik internal maupun eksternal dengan cara yang lebih akurat. Beberapa alasan DSS digunakan dalam suatu perusahaan:

    1. Perusahaan beroperasi pada ekonomi yang tidak stabil.
    2. Perusahaan dihadapkan pada kompetisi dalam dan luar negeri yang meningkat.
    3. Perusahaan menghadapi peningkatan kesulitan dalam hal melacak jumlah operasi-operasi bisnis.
    4. Sistem komputer perusahaan tidak mendukung peningkatan tujuan perusahaan dalam hal efisiensi, profitabilitas dan mencari jalan masuk di pasar yang benar-benar menguntungkan.

Dampak Pemanfaatan DSS

Dampak dari pemanfaatan Decision Support System (DSS) antara lain:

  1. Masalah-masalah semi struktur dapat dipecahkan.
  2. Problem yang kompleks dapat diselesaikan.
  3. Sistem dapat berinteraksi dengan pemakainya.
  4. Dibandingkan dengan pengambilan keputusan secara intuisi, pengambilan keputusan dengan DSS dinilai lebih cepat dan hasilnya lebih baik.
  5. Menghasilkan acuan data untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh manajer yang kurang berpengalaman.
  6. Untuk masalah yang berulang, DSS dapat memberi keputusan yang lebih efektif.
  7. Fasilitas untuk mengambil data, dapat memberikan kesempatan bagi beberapa manajer untuk berkomunikasi dengan lebih baik.
  8. Meningkatkan produktivitas dan kontrol dari manajer.

Sistem Informasi Eksekutif

Sistem Informasi Eksekutif / Eksekutif Information System (EIS) merupakan sistem informasi yang menyediakan fasilitas yang fleksibel bagi manajer dan eksekutif dalam mengakses informasi eksternal dan internal yang berguna untuk mengidentifikasi masalah atau mengenali peluang. Pemakai yang masih awam dengan komputer pun tidak sulit mengoperasikannya karena sistem dilengkapi dengan antarmuka yang sangat memudahkan pemakai dalam penggunaannya (user-friendly).

Sistem Pendukung Kelompok (GSS)

Sistem Pendukung Kelompok/ Group Support System (GSS) merupakan sistem informasi yang digunakan untuk mendukung sejumlah orang yang bekerja dalam suatu kelompok. Sistem ini pada awalnya dibuat untuk mendukung sejumlah orang yang berada pada lokasi yang berbeda yang hendak melakukan sumbang-saran, pemberian komentar, pemilihan suara, dan evaluasi terhadap berbagai alternatif melalui sarana komunikasi. Istilah yang umum sebelum GSS digunakan adalah GDSS (Group Decision Support System).

Sistem Pendukung Cerdas

Kadangkala hanya disebut sistem cerdas, yakni sistem yang memiliki kemampuan seperti kecerdasan manusia. Beberapa sifat sistem tersebut adalah:

  1. Belajar atau memahami permasalahan berdasarkan pengalaman
  2. Memberikan tanggapan yang cepat dan memuaskan situasi-situasi baru
  3. Mampu menangani masalah yang kompleks (masalah semiterstruktur)
  4. Memecahkan permasalahan berdasarkan penalaran
  5. Menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan permasalahan.

Contoh aplikasi sistem cerdas dalam bisnis:

  1. Sistem pakar (expert system), yaitu sistem yang m.eniru kepakaran (keahlian) seseorang dalam bidang tertentu untuk menyelesaikan suatu permasalahan
  2. Sistem pengolahan bahasa alami (natural language processing)

Perbedaan MIS dan DSS

Fitur dari DSS:

  • DSS dapat digunakan untuk mengawali kerja ad hoc, masalah-masalah yang tak diharapkan.
  • DSS dapat menyediakan representasi valid dari sistem di dunia nyata.
  • DSS dapat menyediakan pendukungan keputusan dalam kerangka waktu yang pendek/terbatas.
  • DSS dapat berevolusi sebagai mana halnya pengambil keputusan mempelajari tentang masalah-masalah yang dihadapinya.
  • DSS dapat dikembangkan oleh para profesional yang tak melibatkan pemrosesan data.

Karakteristik MIS:

  • Kajiannya ada pada tugas-tugasnya yang terstruktur, dimana prosedur operasi standar, aturan-aturan keputusan, dan alur informasi dapat didefinisikan
  • Hasil utamanya adalah meningkatkan efisiensi dengan mengurangi biaya, waktu tunggu, dan lain-lain, dan dengan mengganti karyawan klerikal.
  • Relevansinya untuk manajer pengambil keputusan biasanya tak langsung didapatkan; misalnya dengan penyediaan laporan dan akses ke data.

Karakteristik Operation Research/Management Science:

  • Kajiannya ada pada masalah-masalah yang terstruktur (dibandingkan dengan tugas-tugas), dimana tujuan, data, dan batasan-batasan dapat lebih dulu ditentukan.
  • Hasil utamanya adalah dalam menghasilkan solusi yang lebih baik untuk masalah-masalah tertentu.
  • Relevansinya untuk manajer ada pada rekomendasi detil dan metodologi baru untuk menangani masalah-masalah yang kompleks.

Karakteristik DSS:

  • Kajiannya ada pada keputusan-keputusan dimana ada struktur yang cukup untuk komputer dan alat bantu analitis yang memiliki nilai tersendiri, tetapi tetap pertimbangan manajer memiliki esensi utama.
  • Hasil utamanya adalah dalam peningkatan jangkauan dan kemampuan dari proses pengambilan keputusan para manajer untuk membantu mereka meningkatkan efektivitasnya.
  • Relevansinya untuk manajer adalah dalam pembuatan tool pendukung, di bawah pengawasan mereka, yang tak dimaksudkan untuk mengotomatiskan proses pengambilan keputusan, tujuan sistem, atau solusi tertentu.

Gambar 2. Relasi antara EDP, MIS, and DSS

Hubungan antara Decision Support System dan Expert System

  • DSS dan ES berbeda dan tak berhubungan dengan sistem yang terkomputerisasi.
  • Disiplin antara ES dan DSS berkembang pararel, tapi saling tak tergantung dan berjalan sendiri-sendiri. Cuma sekarang kita bisa mencoba menggabungkan potensi dari keduanya.
  • Menurut kenyataannya, disebabkan karena perbedaan kapabilitas diantara kedua tool, mereka dapat mengkomplemen satu sama lain, membuatnya menjadi powerful, terintegrasi, sistem yang berbasis komputer, yang jelas dapat meningkatkan pengambilan keputusan manajerial.

Dukungan dari Pengambilan Keputusan

Perbedaan DSS dan ES

Tabel 2. Perbedaan DSS dan ES

Faktor Pembeda DSS ES
Tujuan Membantu pengguna untuk membuat keputusan Meniru ahli dan menggantikannya
Yang membuat rekomendasi Manusia dan/atau sistem Sistem
Orientasi utama Pengambilan keputusan Transfer keahlian (manusia-mesin-manusia) dan memberikan saran
Arah query utama Pengguna menanyakan sistem Sistem menanyakan pengguna
Sifat dukungan Pribadi, kelompok, lembaga Pribadi (utama), kelompok
Metode manipulasi Numerik Simbolis
Karakteristik area masalah Kompleks dan terintegerasi luas Domain sempit
Jenis masalah Ad-hoc, unik Berulang
Isi dari database Pengetahuan faktual Pengetahuan prosedural dan faktual
Kemampuan penalaran Tidak Ya, terbatas
Kemampuan penjelasan Terbatas Ya

Proses Pengambilan Keputusan

    1. Step A. Mengerti masalah (atau kesempatan yang ada). ES dapat membantu dalam mendesain alur informasi pada eksekutif (misalnya, bagaimana untuk memonitor, kapan) dan dalam penginterpretasian informasi. Disebabkan beberapa informasi bersifat fuzzy, maka kombinasi antara ES dan ANN tentu akan membantu. Seluruh area dari proses scanning, monitoring, forecasting (misalnya, tren) dan penginterpretasian sangat dibantu oleh adanya komputerisasi. Demikian juga natural language processors (NLP) akan berguna dalam menyimpulkan informasi.
    2. Step B. Analisis. Sekali suatu masalah (kesempatan) teridentifikasi, pertanyaan selanjutnya adalah apa yang harus dikerjakan dengan hal ini? Di sinilah langkah analisis berperanan. Analisis bisa bersifat kualitatif atau pun kuantitatif (atau kombinasinya). Analisis kuantitatif didukung oleh DSS dan oleh tool-tool analisis kuantitatif. Analisis kualitatif didukung oleh ES.
    3. Step C. Memilih. Pada langkah ini, keputusan dibuat dengan memperhatikan masalahnya (atau kesempatan) berdasarkan hasil dari analisis. Langkah ini didukung oleh DSS (jika pengambil keputusan adalah seseorang) atau oleh GDSS (jika keputusan dibuat oleh sekelompok orang).
    4. Step D. Implementasi. Pada tahap ini, keputusan untuk mengimplementasikan solusi tertentu dilakukan, dan DSS dan/atau ES bisa mendukung tahap ini.

Gambar 2. Dukungan Terkomputerisasi untuk Proses Pengambilan Keputusan

Daftar Pustaka:

  • Alinezhad, A., & Khalili, J. (2019). New Methods and Applications in Multiple Attribute Decision Making (MADM) (1st ed.). Switzerland: Springer.
  • Kusrini. (2007). Konsep dan Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan (1st ed.). Yogyakarta: Penerbit ANDI.
  • Nofriansyah, D., & Defit, S. (2017). Multi Criteria Decison Making (MCDM) pada Sistem Pendukung Keputusan. Yogyakarta: DeePublish.
  • Turban, E., Aronson, J. E., & Liang, T.-P. (2007). Decision Support Systems and Intelligent Systems (7th ed.). New Delhi: Prentice-Hall, Inc.
  • Tzeng, G.-H., & Huang, J.-J. (2011). Multiple Attribute Decision Making, Method and Applications (1st ed.). Abingdon, UK: Taylor & Francis Group.

 

Download File PDF 

Download File Slide Presentasi PDF 

 

 44 total views,  2 views today

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *