DSS – Pertemuan 04 – Materi

Gede Surya Mahendra - Home

DSS – Pertemuan 04 – Materi

Stiki Logo - Short

Mata Kuliah : Decision Support System

Kode Mata Kuliah : MKB-219

Program Studi : Teknik Informatika

STIMIK STIKOM Indonesia

PERTEMUAN 04

Untuk tampilan lebih baik, dapat mendownload file PDF pada link yang tersedia

Kemampuan Akhir yang Diharapkan:

Mahasiswa dapat memahami struktur masing-masing komponen DSS

Bahan Kajian:

  • Ketepatan dalam memahami karakteristik dan kapabilitas kunci dari DSS.
  • Ketepatan memahami komponen-komponen dari DSS
  • Ketepatan memahami struktur subsistem manajemen data
  • Ketepatan memahami struktur subsistem manajemen model
  • Ketepatan memahami skema antarmuka pengguna
  • Ketepatan memahami subsistem manajemen berbasis pengetahuan
  • Ketepatan memahami peran khusus pengguna pada DSS.

Metode Pembelajaran

  • Pembelajaran diskusi dan discovery tentang struktur komponen DSS.

Pengalaman Pembelajaran

  • Memahami karakteristik dan kapabilitas kunci dari DSS.
  • Memahami komponen-komponen dari DSS
  • Memahami struktur sub sistem manajemen data Ketepatan memahami struktur subsistem manajemen model
  • Memahami skema antarmuka pengguna
  • Memahami subsistem manajemen berbasis pengetahuan
  • Memahami peran khusus pengguna pada DSS.

Kriteria Penilaian dan Indikator

  • Kemampuan untuk memahami struktur masing- masing DSS.

 

Download File Materi PDF

Download File Slide Presentasi PDF

 

TINJAUAN

  1. Arsitektur Sistem Pendukung Keputusan
    1. Subsistem Manajemen Data
    2. Subsistem Manajemen Model
    3. Subsistem Antarmuka Pengguna
    4. Subsistem Manajemen Berbasis Pengetahuan
  2. Subsistem Manajemen Model
  3. Subsistem Manajemen Data
    1. Database
    2. Ekstraksi
    3. Organisasi Data
    4. Sistem Manajemen Database
    5. Fasilitas Query
    6. Direktori Data
  4. Subsistem Antarmuka Pengguna
  5. Subsistem Berbasis Pengetahuan (Knowledge Base)
  6. Pembangunan Sistem Pendukung Keputusan
    1. Analisis Sistem
    2. Perancangan Sistem
    3. ImplementasiSubsistem Manajemen Data

MATERI

Arsitektur Sistem Pendukung Keputusan

Aplikasi sistem pendukung keputusan bisa terdiri dari beberapa subsistem, yaitu:

Subsistem Manajemen Data

Subsistem manajemen data memasukkan satu database yang berisi data yang relevan untuk suatu situasi dan dikelola oleh perangkat lunak yang disebut sistem manajemen database (DBMS/ Data Base Management System). Subsistem manajemen data bisa diinterkoneksikan dengan data warehouse perusahaan, suatu repositori untuk data perusahaan yang relevan dengan pengambilan keputusan.

Subsistem Manajemen Model

Merupakan paket perangkat lunak yang memasukkan model keuangan, statistik, ilmu manajemen, atau model kuantitatif lain yang memberikan kapabilitas analitik dan manajemen perangkat lunak yang tepat. Bahasa-bahasa pemodelan untuk membangun model-model kustom juga dimasukkan. Perangkat lunak itu sering disebut sistem manajemen basis model (MBMS). Komponen tersebut bisa dikoneksikan ke penyimpanan korporat atau eksternal yang ada pada model.

Subsistem Antarmuka Pengguna

Pengguna berkomunikasi dengan dan memerintahkan sistem pendukung keputusan melalui subsistem tersebut. Pengguna adalah bagian yang dipertimbangkan dari sistem. Para peneliti menegaskan bahwa beberapa kontribusi unik dari sistem pendukung keputusan berasal dari interaksi yang intensif antara komputer dan pembuat keputusan.

Subsistem Manajemen Berbasis Pengetahuan

Subsistem tersebut mendukung semua subsistem lain atau bertindak langsung sebagai suatu komponen independen dan bersifat opsional. Selain memberikan intelegensi untuk memperbesar pengetahuan pengambil keputusan, subsistem tersebut bisa diinterkoneksikan de ngan repositori pengetahuan perusahaan (bagian dari sistem manajemen pengetahuan), yang kadang-kadang disebut basis pengetahuan organisasional.

Berdasarkan definisi, sistem pendukung keputusan harus mencakup tiga komponen utama dari DBMS, MBMS, dan antarmuka pengguna. Subsistem manajemen berbasis pengetahuan adalah opsional, tetapi bisa memberikan banyak manfaat karena memberikan intelegensi bagi ketiga komponen utama tersebut. Seperti pada semua sistem informasi manajemen, pengguna bisa dianggap sebagai komponen sistem pendukung keputusan. Komponen-komponen tersebut membentuk sistem aplikasi sistem pendukung keputusan yang bisa dikoneksikan ke intranet perusahaan, ekstranet, atau Internet. Arsitektur dari sistem pendukung keputusan ditunjukkan dalam Gambar 4. 1 berikut.

Gambar 4. 1 Arsitektur DSS

Subsistem Manajemen Data

Subsistem manajemen data terdiri dari elemen-elemen herikut.

  1. Database system pendukung keputusan
  2. Sistem Manajemen Database/ Database Management System (DBMS)
  3. Direktori data
  4. Fasilitas Query

Hubungan antara elemen-elemen tersebut ditunjukkan dalam Gambar 4. 2.

Gambar 4. 2 Elemen-Elemen Subsistem Manajemen Data

Database

Database adalah kumpulan data yang saling terkait yang diorganisasi untuk memenuhi kebutuhan dan struktur sebuah organisasi serta bisa digunakan oleh lebih dari satu orang dan lebih dari satu aplikasi. Ada 3 sumber data dalam sistem pendukung keputusan, yaitu:

    1. Data internal

Data internal yang dimaksud adalah data yang sudah ada dalam suatu organisasi. Data tersebut bisa dikendalikan oleh organisasi tersebut. Data internal bisa berupa data mengenai orang, produk, layanan, dan proses-proses. Contoh data internal adalah:

  • Data tentang pegawai
  • Data tentang peralatan dan mesin
  • Data penjualan
  • Data penjadwalan produksi
    1. Data eksternal

Data eksternal adalah data yang tidak bisa dikendalikan oleh organisasi. Data tersebut berasal dari luar sistem. Contoh dari data eksternal adalah:

  • Peraturan perundangan
  • Harga pasar
  • Keadaan pesaing
  • Kurs Dolar
    1. Data Privat/Personal

Data privat adalah data mengenai kepakaran/naluri dari user terhadap masalah yang akan diselesaikan. Dengan kata lain, data privat merupakan pendapat dari user mengenai variabel yang diperlukan dalam menyelesaikan masalah atau nilai dari suatu variabel. Data tersebut bersifat subjektif

Ekstraksi

Dalam membuat sebuah database sering diperlukan adanya koneksi ke datawarehouse. Proses pemindahan data-data dari database operasional ke dalam datawarehouse atau database yang khusus digunakan untuk analisis disebut proses ekstraksi. Ekstraksi juga menangani pengambilan data dari sumber-sumber data eksternal dan data privat.

Organisasi Data

Apakah dalam pembuatan aplikasi sistem pendukung keputusan diperlukan pembuatan database khusus atau penggunaan data dari online transactional processing (OLTP)? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita bisa meninjau sifat dasar OLTP dan sistem pendukung keputusan. OLTP menipakan sistem opetasional yang dibangun untuk menjalankan bisnis sehari-hari. Sistem tetsebul mendukung proses bisnis dalam organisasi dan dibangun untuk memasukkan data dalam database Sementara itu, sistem pendukung keputusan tidak dibangun untuk menjalankan proses bisnis perusahaan. tetapi untuk melihat bagaimana proses bisnis berjalan, yang kemudian meningkatkan kualitas proses bisnis yang ada. Sistem pendukung keputusan dihangun untuk memperoleh informasi strategis dari database yang ada.

Kesulitan analisis dengan database OLTP adaiah:

  • Kompleks dan terlalu terstruktur (3NF)
  • Sistem lebih didesain ke arah performance tinggi untuk transaksi daripada untuk analisis
  • Data yang ada tidak selalu berguna untuk analisis
  • Data elemen yang sama bisa didefinisikan secara berbeda (contoh: tanggal ada yang bertipe date, dan ada yang bertipe varchar)
  • Data disebar dalam banyak sistem sehingga sulit untuk melakukan analisis secara langsung
  • Analisis pada OLTP bisa menurunkan performance transaksi

Dalam membangun database untuk keperluan transaksi, patokan yang digunakan adalah normalisasi, di mana kita akan menghindari adanya redundansi dalam sistem database yang dibangun. Hal itu bertujuan agar proses input bisa dilakukan dalam satu lokasi penyimpanan saja sehingga proses penginputan, pengubahan, atau penghapusan bisa dilakukan dengan cepat. Hal itu sesuai dengan karakteristik dari transaksi yang sering melakukan operasi insert, update, ataupun delete. Selain itu, hal tersebut dimaksudkan agar data yang ada selalu konsisten.

Lain halnya bila kita membangun dai untuk keperluan analisis. Proses yang sering terjadi adalah proses pengambilan data atau select. Proses tersebut akan mudah dilakukan oleh sistem jika dilakukan dalam satu tabel saja tanpa proses pengambilan dengan fungsi agregasi. Oleh karena itu, rancangan database yang sangat normal justru akan mempersulit proses pengambilan data. Dalam perancangan database yang digunakan untuk analisis justru dianut kaidah perancangan database dengan struktur yang tidak normal, di mana redundansi bisa terjadi di mana-mana. Seringkali tersimpan data-data summary dalam database, tidak hanya data atomik transaksi.

Sistem Manajemen Database

Database dibuat, diakses, dan diperbarui melalui sistem manajemen database/database management system (DBMS). DBMS yang dimaksud adalah software pengelola database seperti Microsoft SQL Server. Microsoft Access, Oracle, My SQL, dll. Dalam memilih DBMS, tentunya harus diperhatikan beberapa hal yang terkait dengan aplikasi yang akan dibangun, seperti:

  • Arsitektur sistemnya. Apakah sistem akan berbasis stand alone atau client server, berbasis desktop, atau berbasis web. Hal itu perlu diperhatikan karena setiap DBMS memiliki keunggulan pada masing-masing arsitekturnya.
  • Platform sistem operasi yang digunakan
  • Besarnya data
  • Pentingnya dukungan keamanan

Fasilitas Query

Merupakan fasilitas untuk menyediakan akses data ke database serta manipulasi data dalam database. Fasilitas tersebut menjawab bagaimana kebutuhan informasi dari user bisa dipenuhi oleh database.

Direktori Data

Merupakan sebuah katalog dari semua data yang ada dalam database. Isinya definisi data, dan fungsi utamanya adalah menjawab pertanyaan mengenai ketersediaan item-item data, sumber, dan makna eksak dari data.

Subsistem Manajemen Model

Model merupakan abstraksi dunia nyata menjadi bentuk simbolik dengan cujuan menyederhanakan, meminimalkan biaya, dan meminimalkan risiko agar lebih efektif.

Sebuah model akan sangat tergantung pada:

  • Variabel waktu (tetap/tidak)
  • Hasil (acak/terdistribusi/pola)
  • Nilai awal (ada/tidak ada)

Beberapa bentuk model di antaranya:

  1. Model Ikonik

Model ikonik adalah perwakilan fisik dari beberapa hal, baik dalam bentuk ideal ataupun dalam skala yang berbeda. Model ikonik memiliki karakteristik yang sama dengan hal yang diwakili, terutama untuk menerangkan kejadian pada waktu yang spesifik. Model ikonik bisa berdimensi dua (foto, peta, cetak biru) atau tiga (prototipe mesin, alat). Apabila berdimensi lebih dari tiga, maka model tidak mungkin lagi dikonstruksi secara fisik sehingga diperlukan kategori model simbolik.

  1. Model Analog (Model Diagramatik)

Model analog bisa mewakili situasi dinamik, yaitu keadaan yang berubah menurut waktu. Model ini lebih sering dipakai daripada model ikonik karena kemampuannya untuk mengetengahkan karakteristik dari kejadian yang dikaji. Model analog banyak berkesuaian dengan penjabaran hubungan kuantitatif antara sifat dan kelas-kelas yang berbeda. Melalui transformasi sifat menjadi analognya, kemampuan membuat perubahan bisa ditingkatkan. Contoh model analog adalah kurva permintaan, kurva distribusi frekuensi pada statistik dan diagram alir.

  1. Model Simbolik (Model Matematik)

Pada hakikatnya, ilmu sistem memusatkan perhatian kepada model simbolik sebagai perwakilan dari realitas yang sedang dikaji. Format model simbolik bisa berupa bentuk angka, simbol, dan rumus. Jenis model simbolik yang umuin dipakai adalah suatu persamaan (equation). Bentuk persamaan adalah tepat, singkat, dan mudah dimengerti. Simbol persamaan tidak saja mudah dimanipulasi daripada kata-kata, tetapi juga lebih cepat ditangkap maksudnya. Suatu persamaan adalah bahasa universal dalam penelitian operasional dan ilmu sistem. Dimana digunakan suatu logika simbolis. Permodelan mencakup suatu pemilihan atas karakteristik dari perwakilan abstrak yang paling tepat dalam situasi yang terjadi. Pada umumnya, model matematis bisa diklasifikasikan menjadi dua bagian. Suatu model bisa statis atau dinamis. Model statis memberikan informasi tentang peubah-peubah model hanya pada titik tunggal dari waktu. Model dinamis mampu menelusuri jalur waktu dari peubah-peubah model. Model dinamis lebih sulit dan mahal pembuatannya, tetapi memberikan kekuatan yang lebih tinggi dalam analisis dunia nyata.

Pemilihan model tergantung pada tujuan dari pengkajian sistem dan terlihat jelas dalam formulasi permasalahan dalam tahap evaluasi kelayakan. Sifat model juga tergantung pada teknik permodelan yang dipakai. Model yang mendasarkan pada teknik peluang dan memperhitungkan ketidakmenentuan (uncertainty) disebut model probabilistik atau model stokastik.

Keuntungan penggunaan model adalah:

  1. Mereduksi cost/ biaya
  2. Mereduksi waktu
  3. Mudah dimanipulasi
  4. Mendekati real system
  5. Lebih pasti
  6. Dapat menganalisis permasalahan yang kompleks
  7. Bisa digunakan sebagai bahan latihan

Namun demikian, hal-hal vang harus diperhatikan dalam pemodelan adalah:

  1. Pemodelan merupakan sesuatu yang sulit dilakukan
  2. Dalam pemodelan seringkali digunakan asumsi- asumsi (tidak menggunakan data)

Model keputusan merupakan suatu bentuk keputusan yang diabstraksikan menjadi bentuk simbolik. Subsistem manajemen model dalam DSS terdiri dari sub-sub komponen berikut:

  1. Basis Model

Berisi model statistik, keuangan, pengetahuan manajemen atau model quantitatif lain yang menyediakan kemampuan analisis, seperti mencari, menjalankan. menggabungkan, serta memeriksa model. Dilihat dari tingkat manajemen penggunanya. Model dalam basis model dibedakan menjadi 4, yaitu:

  1. Model strategis

Mendukung tanggung jawab perencanaan strategis dari top management. Contoh: Pengembangan perusahaan, pemilihan lokasi pabrik, perencanaan merjer

  1. Model taktikal

Digunakan oleh manajemen tingkat menengah untuk membantu pengalokasian dan pengontrolan sumber daya organisasi. Contoh: Perencanaan kebutuhan tenaga kerja, pembelajaran rutin, dll

  1. Model Operasional

Mendukung manajemen level bawah dalam pelaksanaan aktivitas sehari-hari dalam cakupan waktu yang singkat

  1. Model Building Block

Model ini merupakan model yang akan digunakan untuk membangun model yang lain. Contohnya adalah Analisis Regresi, penghitungan NPV, dll

  1. Sistem Manajemen Basis Model

Software pembuat model, pembaruan model, pengubahan model, dan manipulasi data

  1. Model Directori

Katalog semua model dalam basis model yang terdiri dari definisi model dan fungsi utama untuk menjawab pertanyaan tentang keberadaan dan kemampuan model.

  1. Model eksekusi, intelegensi, dan perintah

Eksekusi berfungsi mengontrol jalannya aktivitas nyata. Intelegensi menggabungkan operasi beberapa model, sedangkan perintah berfungsi menerima dan menerjemahkan instruksi model dari model lain.

Saat melakukan pemodelan dalam pembangunan DSS dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Studi kelayakan (Intelligence)

Pada langkah ini, sasaran ditentukan dan dilakukan pencarian prosedur, pengumpulan data, identifikasi masalah, identifikasi kepemilikan masalah, klasifikasi masalah, hingga akhirnya, terbentuk sebuah pernyataan masalah. Kepemilikan masalah berkaitan dengan bagian apa yang akan dibangun oleh DSS dan apa tugas dari bagian tersebut sehingga model tersebut bisa relevan dengan kebutuhan si pemilik masalah.

  1. Perancangan (Design)

Pada tahapan ini akan diformulasikan model yang akan digunakan dan kriteria-kriteria yang ditentukan, Setelah itu, dicari alternatif model yang bisa menyelesaikan permasahan tersebut. Langkah selanjutnya adalah memprediksi keluaran yang mungkin. Kemudian, ditentukan variabel-variabel model.

  1. Pemilihan (Choice)

Setelah pada tahap design ditentukan berbagai alternatif model beserta variabel-variabelnya, pada tahapan ini akan dilakukan pemilihan modelnya, termasuk solusi dari model tersebut. Selanjutnya, dilakukan analisis sensitivitas, yakni dengan mengganti beberapa variabel.

  1. Membuat DSS

Setelah menentukan modelnya, berikutnya adalah mengimplementasikannya dalam aplikasi DSS.

Subsistem Antarmuka Pengguna

Subsistem antarmuka pengguna di kelola oleh perangkat lunak yang di sebut sebagai sistem manajemen antarmuka pengguna (UIMS). UIMS terdiri dari beberapa program yang memberikan kapabilitas. UIMS juga di kenal sebagai generasi dialog dan sistem manajemen. Proses antarmuka pengguna untuk sebuah Managemen support system (MMS) di tunjukkan secara skematis pada gambar di bawah ini.

Gambar 4. 3 Skema sistem antarmuka pengguna (dialog)

Pengguna berinteraksi dengan komputer yang di proses oleh UIMS. Pada sistem lanjutan, komponen antarmuka pengguna dapat menggunakan objek standar (misal menu pull-down, button, browser internet) melalui UIMS. UIMS memberikan kapabilitas di bawah ini:

  • Memberikan antarmuka pengguna grafis
  • Mengakomodasi pengguna dengan berbagai alat input
  • Menyajian data dengan berbagai format dan alat output
  • Memberikan kepada pada pengguna kapabilitas bantuan, prompting, diagnostik, dan rutin-rutin saran, atau semua dukungan fleksibel lainnya
  • Memberikan interaksi dengan database dan basis model
  • Menyimpan data input dan output
  • Memberikan grafis berwarna, grafis tiga dimensi, dan plotting data
  • Memiliki window yang memungkinkan banyak fungsi untuk di tampilkan secara konkuren
  • Dapat mendukung komunikasi diantara dan antarpengguna dan pembangunan MSS
  • Memberikan pelatihan berdasarkan contoh (memandu pengguna melalui proses input dan pemodelan)
  • Memberikan fleksibilitas dan adaptivitas sehingga MMS dapat mengakomodasi masalah-masalah dan tekhnologi yang berbeda-beda
  • Berinteraksi dengan banyak gaya dialog yang berbeda-beda
  • Menangkap, menyimpan, dan menganalisis pemakaian dialog (pelacakan) untuk meningkatkan sistem dialog; pelacakan oleh pengguna juga disediakan
  • Memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dengan subsistem manajemen model dan manajemen data.

Subsistem Berbasis Pengetahuan (Knowledge Base)

Subsistem ini mendukung semua subsistem lain atau bertindak sebagai suatu komponen independen yang memberikan intelegensi untuk memperbesar pengetahuan si pengambil keputusan. Subsistem ini dapat di interkoneksikan dengan repositori pengetahuan perusahaan (bagian dari sistem manajemen pengetahuan) yang kadang-kadang di sebut basis pengetahuan organisasional.

Banyak masalah tak terstruktur dan bahkan semi terstruktur yang sangat kompleks sehingga solusinya memerlukan keahlian. Keahlian tersebut dapat di berikan oelh suatu sistem pakar atau sistem cerdas lainnya. Oleh karena itu, makin banyak sistem pendukung keputusan canggih yang dilengkapi dengan satu komponen yang disebut dengan subsistem manajemen berbasis pengetahuan. Komponen ini dapat menyediakan keahlian yang di perlukan untuk memecahkan beberapa aspek masalah dan memberikan pengetahuan yang dapat meningkatkan operasi komponen sistem pendukung keputusan yang lain.

Berdasarkan semua defenisi-defenisi diatas, sistem pendukung keputusan harus mencakup tiga komponen utama yaitu DBMS (Database Management System), MBMS (Managemen Basis Model) dan antarmuka pengguna, subsistem manajemen pengetahuan adalah opsional, namun dapat memberikan banyak mamfaat karena memberikan intelegensi bagi tiga komponen utama tersebut. Skematik sistem pendukung keputusan dan komponen yang di tunjukkan pada gambar dibawah ini memberikan pemahaman dasar mengenai struktur umum suatu sistem pendukung keputusan

Pembangunan Sistem Pendukung Keputusan

Terdapat 2 pendekatan dalam pembangunan sistem pendukung keputusan, yaitu:

    1. Membangun sistem pendukung keputusan yang dibuat dengan Bahasa pemrograman sesuai keperluan organisasi. Strategi pengembangannya adalah menggunakan bahasa pemrograman generik/umum, seperti visual basic, delphi, pascal, dll.
    2. Menggunakan generator sistem pendukung keputusan. Generator sistem pendukung keputusan adalah sebuah sistem aplikasi yang mengeliminasi penulisan kode program saat merancang dan membangun sistem pendukung keputusan. Salah satu contoh generator sistem pendukung keputusan adalah lembar kerja (spreadsheet) elektronik, seperti Excel dan Lotus 1-2-3.

Untuk mengembangkan suatu sistem informasi, diperlukan metodologi pengembangan sistem, yaitu menyusun suatu sistem baru untuk menggantikan sistem lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada. Pengembangan sistem informasi memiliki daur hidup yang disebut daur pengembangan sistem informasi atau dinamakan SDLC (System Development Life Cycle). Metode tersebut mencakup sejumlah fase atau tahapan, yaitu analisis sistem, desain sistem, dan implementasi.

Analisis Sistem

Tahapan analisis sistem dimulai karena adanya permintaan terhadap sistem baru. Permintaan bisa datang dari seorang manajer di luar departemen sistem informasi atau dari pihak eksekutif yang melihat adanya masalah atau menemukan adanya peluang baru. Namun, adakalanya inisiatif pengembangan sistem baru berasal dari bagian yang bertanggung jawab terhadap pengembangan sistem informasi, yang bermaksud mengembangkan sistem yang sudah ada atau mengatasi masalah-masalah yang belum tertangani. Tujuan utama dari analisis sistem adalah menentukan hal-hal secara detail vang akan dikerjakan oleh sistem yang diusulkan Dalam menganalisis sistem pendukung keputusan akan dilakukan langkah-langkah pembuatan model. yaitu:

    1. Proses studi kelayakan yang terdiri dari penentuan sasaran, pencarian prosedur, pengumpulan data, identifikasi masalah, identifikasi kepemilikan masalah, klasifikasi masalah, hingga akhirnya terbentuk sebuah pernyataan masalah.
    2. Proses perancangan model. Dalam tahapan ini akan diformulasikan model yang akan digunakan serta kriteria-kriteria yang ditentukan. Setelah itu, dicari alternatif model yang bisa menyelesaikan permasahan tersebut. Langkah selanjutnya adalah memprediksi keluaran yang mungkin. Berikutnya, tentukan variabel-variabel model. Setelah beberapa alternatif model diberikan. pada tahap ini akan ditentukan satu model yang akan digunakan dalam sistem pendukung keputusan yang akan dibangun.

Dalam tahapan analisis ini, pembangun sistem sebaiknya membuat simulasi untuk memecahkan masalah menggunakan model yang dipilih dengan sampel data. Jika secara manual model tersebut bisa memecahkan masalah, maka barulah dilakukan tahap perancangan sistem.

Perancangan Sistem

Untuk melakukan perancangan sistem, dibutuhkan alat bantu perancangan. Dalam tahapan ini, pengembang sistem bisa menentukan arsitektur sistemnya, merancang gambaran konseptual sistem, merancang database, perancangan interface, hingga membuat flowchart program. Salah satu alat bantu yang bisa digunakan dalam pembuatan sistem bantu keputusan adalah Data Flow Diagram (DFD).

DFD adalah suatu model logika data atau proses yang dibuat untuk menggambarkan asal data dan tujuan data yang keluar dari sistem, tempat penyimpanan data, proses apa yang menghasilkan data tersebut, serta interaksi antara data yang tersimpan dan proses yang dikenakan pada data tersebut.

Beberapa simbol yang digunakan dalam DFD bermaksud mewakili:

    1. Kesatuan luar (external entity)

Kesatuan luar merupakan kesatuan di lingkungan luar sistem yang bisa berupa orang, organisasi, atau sistem lain yang berada di lingkungan luarnya, yang akan memberikan input atau menerima output dari sistem. Suatu kesatuan luar bisa disimbolkan dengan suatu notasi kotak atau suatu kotak dengan sisi kiri dan atas berbentuk garĂ­s tebal. Kesatuan luar bisa diberi identifikasi dengan huruf kecil di ujung kiri atas.

Gambar 4. Simbol Kesatuan Luar

    1. Arus data (data flow)

Arus data mengalir di antara proses, simpanan data, dan kesatuan luar. Arus data menunjukkan arus data\’ yang bisa berupa masukan untuk sistem atau hasil dari proses sistem. Arus data diberi symbol suatu panah.

Gambar 4. Simbol Arus Data

    1. Proses (process)

Proses adalah kegiatan atau kerja yang dilakukan orang, mesin, atau komputer dengan hasil suatu arus data yang masuk ke dalam proses untuk kemudian dihasilkan arus data yang akan keluar dari proses. Suatu proses bisa ditunjukkan dengan simbol lingkaran atau dengan simbol empat persegi panjang dengan sudut-sudut yang tumpul.

Gambar 4. Simbol Proses

    1. Simpanan data (data store)

Simpanan data merupakan simpanan dari data yang berupa file atau database komputer, arsip atau catatan manual, kotak tempat data, tabel acuan, dan agenda atau buku. Simpanan data disimbolkan dengan sepasang garis horisontal paralel yang tertutup di salah satu ujungnya.

Gambar 4. Simbol Simpanan Data

Perancangan database bisa dilakukan dengan beberapa pendekatan tergantung pada struktur database yang diinginkan. Jika menginginkan database yang normal, maka bisa digunakan kaidah normalisasi. Penjelasan mengenai teknik perancangan dengan kaidah tersebut bisa dilihat dari buku Strategi Perancangan dan Pengelolaan Basis Data yang juga diterbitkan oleh Penerbit Andi. Sementara itu, perancangan database yang berupa datawarehouse sangat lah berbeda dengan perancangan database dengan teknik normalisasi. Struktur yang sering digunakan dalam datawarehouse adalah starskema dan snowflake.

Implementasi

Tahap implementasi sistem (system implementation) merupakan tahapan untuk meletakkan sistem supaya siap untuk dioperasikan. Pada tahapan ini terdapat banyak aktivitas yang dilakukan, yaitu: Pemrograman dan pengetesan program Pemrograman merupakan kegiatan menulis kode program yang akan dieksekusi oleh komputer. Kode program harus berdasarkan dokumentasi yang disediakan oleh analis sistem hasil dari desain sistem. Sebelum diterapkan, program harus bebas dari kesalahan-kesalahan terlebih dahulu. Oleh sebab itu, program harus dites untuk menemukan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi.

  1. Instalasi perangkat keras dan lunak

Proses pemasangan perangkat keras dan instalasi perangkat lunak yang sudah ada.

  1. Pelatihan kepada pemakai

Manusia merupakan faktor yang diperlukan dalam sistem informasi. Jika ingin sukses dalam sistem informasi, maka personil-personil yang terlibat harus diberi pengertian dan pengetahuan tentang sistem informasi dan posisi serta tugas mereka. Beberapa pendekatan bisa dilakukan dalam pelatihan dan pendidikan, yaitu ceramah/seminar, pelatihan prosedural, pelatihan tutorial, simulasi, dan Latihan langsung.

  1. Pembuatan dokumentasi

Dokumentasi adalah melakukan pencatatan terhadap setiap langkah pekerjaan pembuatan sebuah program yang dilakukan dari awal sampai selesai. Ada tiga jenis pemakai dokumentasi dengan kebutuhan yang berbeda-beda, yaitu dokumentasi untuk pemrogram, dokumentasi untuk operator, dan dokumentasi untuk pemakai biasa (user).

Daftar Pustaka

  • Alinezhad, A., & Khalili, J. (2019). New Methods and Applications in Multiple Attribute Decision Making (MADM) (1st ed.). Switzerland: Springer.
  • Kusrini. (2007). Konsep dan Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan (1st ed.). Yogyakarta: Penerbit ANDI.
  • Nofriansyah, D., & Defit, S. (2017). Multi Criteria Decison Making (MCDM) pada Sistem Pendukung Keputusan. Yogyakarta: DeePublish.
  • Turban, E., Aronson, J. E., & Liang, T.-P. (2007). Decision Support Systems and Intelligent Systems (7th ed.). New Delhi: Prentice-Hall, Inc.
  • Tzeng, G.-H., & Huang, J.-J. (2011). Multiple Attribute Decision Making, Method and Applications (1st ed.). Abingdon, UK: Taylor & Francis Group.

 

Download File Materi PDF

Download File Slide Presentasi PDF

 

 28 total views,  2 views today

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *