DSS – Pertemuan 13 – Materi

Gede Surya Mahendra - Home

DSS – Pertemuan 13 – Materi

Stiki Logo - Short

Mata Kuliah : Decision Support System

Kode Mata Kuliah : MKB-219

Program Studi : Teknik Informatika

STIMIK STIKOM Indonesia

PERTEMUAN 13 METODOLOGI DAN ANALISIS PEMBANGUNAN DSS

Untuk tampilan lebih baik, dapat mendownload file PDF pada link yang tersedia

Mg Ke- Kemampuan Akhir yang Diharapkan Bahan Kajian Metode Pembelajaran Waktu Pengalaman Belajar Penilaian dan Indikator Bobot Penilaian (%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
13 Mahasiswa dapat memaparkan metodologi dan analisis pembangunan Decision Support System.
  • Ketepatan mampu memaparkan analisis Decision Support System yang akan dibangun.
  • Ketepatan mampu memaparkan gambaran umum dari sistem yang akan dibangun.
  • Pembelajaran discovery dan diskusi dalam materi analisis pembangunan DSS
[TM : 1 x (3×50”)]
  • Mampu memaparkan metodologi dan analisis pembangunan DSS
  • Kemampuan dalam memaparkan metodelogi dan Analisa pembangunan DSS
5%

Download File Materi PDF

Download File Slide Perkuliahan PDF 

TINJAUAN

  1. Model System Development Life Cycle (SLDC)
  2. Model ‘Air Terjun’ (Waterfall)
  3. Model Prototyping
  4. Model RAD (Rapid Application Development)
  5. Model Spiral
  6. Object Oriented Technology
  7. Model Functional Decomposition
  8. Data Oriented Methodologies
  9. Prescriptive Methodologies
  10. Model V
  11. Metode End-user Development
  12. Soft System Methodology
  13. Cross-Industry Standard Process for Data Mining (CRISP-DM)

MATERI

Model System Development Life Cycle (SLDC)

Metode ini adalah metode pengembangan sistem informasi yang pertama kali digunakan makanya disebut dengan metode tradisional. Metode ini prototype.

Tahapan Model System Development Life Cycle (SLDC)

Adalah tahap-tahapan pekerjaan yang dilakukan oleh analis sistem dan programer dalam membangun sistem informasi. Adapun tahap-tahap tersebut yaitu:

  1. Melakukan survey dan menilai kelayakan proyek pengembangan sistem informasi.

Tahap ini akan ditentukan ruang lingkup proyek bagi semua pemakai sistem informasi dan berbagai tingkat pertanggungjawaban, meneliti masalah dan berbagai kemungkinan adanya kendala, menentukan sasaran proyek dan menentukan solusinya. Hasil dari survey adalah laporan kelayakan studi berisi temuan-temuan, rekomendasi, pertimbangan biaya dan manfaat. Temuan ini harus diketahui oleh komite pengawas.

  1. Mempelajari dan menganalisis sistem informasi yang sedang berjalan.

Mempelajari sistem yang sedang berjalan, mengetahui sebab dan kendala yang dihadapi. Hasil dari tahap ini adalah laporan yang mengungkapkan adanya berbagai permasalahan (problem statement)

  1. Menentukan permintaan pemakai sistem informasi.

Hal terpenting dari sistem informasi adalah terlebih dahulu harus mendapat persetujuan dari para pemakai sistem (pemakai sistem dilibatkan). Hasil dari tahap ini adalah laporan permintaan dari pemakai sistem informasi yang akan dijadikan dasar untuk pembuatan keputusan.

  1. Memilih solusi atau pemecahan masalah yang paling baik.

Dari berbagai solusi maka solusi dan pemecahan masalah terbaiklah yang akan dipilih yaitu berdasarkan hasil analisis permintaan pemakaian.

  1. Menentukan perangkat keras dan perangkat lunak komputer.

Setelah proposal pengembangan sistem informasi disetujui maka ditentukan hardware dan software yang akan digunakan dan bagaimana cara mendapatkannya

  1. Merancang sistem informasi baru.

Kegiatan perancangan sistem informasi baru umumnya meliputi: input, proses, output, bahan yang digunakan, metode dan prosedur serta pengendalian intern

  1. Mengkomunikasikan dan mengimplementasikan sistem informasi baru.

Hasil penyusunan sistem informasi adalah sebuah software komputer yang siap pakai digunakan sesuai dengan kebutuhan users, selanjutnya analis harus memperkenalkan paket sistem informasi tersebut untuk dioperasikan (pelatihan users dll).

  1. Memelihara dan melakukan perbaikan/peningkatan sistem informasi baru. Pemeliharaan yang dilakukan adalah dengan melakukan perbaikan-perbaikan pada kesalahan atau kegagalan yang timbul dalam penggunaan sistem informasi.

Gambar 13. Model SDLC

Kelebihan Model SLDC

  • Mudah diaplikasikan.
  • Memberikan template tentang metode analisis, desain, pengkodean, pengujian, dan pemeliharaan.

Kekurangan Model SLDC

  • Jarang sekali proyek riil mengikuti aliran sekuensial yang dianjurkan model karena model ini bisa melakukan itersi tidak langsung.
  • Pelanggan sulit untuk menyatakan kebutuhan secara eksplisit sehingga sulit untuk megakomodasi ketidakpastian pada saat awal proyek.
  • Pelanggan harus bersikap sabar karena harus menunggu sampai akhir proyek dilalui. Sebuah kesalahan jika tidak diketahui dari awal akan menjadi masalah besar karena harus mengulang dari awal.
  • Pengembang sering malakukan penundaan yang tidak perlu karena anggota tim proyek harus menunggu tim lain untuk melengkapi tugas karena memiliki ketergantungan hal ini menyebabkan penggunaan waktu tidak efesien.

Model ‘Air Terjun’ (Waterfall)

Sering juga disebut model Sequential Linier yang merupakan metode pengembangan sistem yang paling tua dan paling sederhana. Cocok untuk pengembangan perangkat lunak dengan spesifikasi yang tidak berubah-ubah. Model ini menyediakan pendekatan alur hidup perangkat lunak secara sequential atau terurut dimulai dari analisa, desain, pengkodean, pengujian dan tahap pendukung

Tahapan Model Waterfall

    1. Analisis Kebutuhan Perangkat Lunak

Pengumpulan kebutuhan untuk menspesifikasikan kebutuhan perangkat lunak sehingga dapat dipahami kebutuhan dari user.

    1. Desain

Desain pembuatan program perangkat lunak termasuk struktur data, arsitektur perangkat lunak, representasi antar muka dan prosedur pengkodean.

    1. Pembuatan Kode Program

Hasil tahap ini adalahprogram komputer sesuai dengan desain yang telah dibuat pada tahap desain.

    1. Pengujian

Pengujian fokus pada perangkat lunak dari segi logik dan fungsional serta memastikan bahwa semua bagian sudah diuji sehingga keluaran yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan.

    1. Pendukung atau Pemeliharaan

Dikarenakan adanya perubahan ketika sudah dikirimkan ke user. Perubahan dapat terjadi karena adanya kesalahan yang muncul dan tidak terdeteksi saat pengujian.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/5/51/Waterfall_model.png

Gambar 13. Model Waterfall

Kelebihan Model Waterfall

Metode pengembangan waterfall mempunyai keunggulan dalam membangun dan mengembangkan suatu sistem, antara lain:

  1. Kualitas dari sistem yang dihasilkan akan baik. Ini dikarenakan oleh pelaksanaannya secara bertahap. Sehingga tidak terfokus pada tahapan tertentu.
  2. Dokumen pengembangan sistem sangat terorganisir, karena setiap fase harus terselesaikan dengan lengkap sebelum melangkah ke fase berikutnya. Jadi setiap fase atau tahapan akan mempunyai dokumen tertentu.

Kekurangan Model Waterfall

Dalam proses membangun dan mengembangkan suatu sistem, metode waterfall mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:

    1. Diperlukan majemen yang baik, karena proses pengembangan tidak dapat dilakukan secara berulang sebelum terjadinya suatu produk.
    2. Kesalahan kecil akan menjadi masalah besar jika tidak diketahui sejak awal pengembangan.
    3. Pelanggan sulit menyatakan kebutuhan secara eksplisit sehingga tidak dapat mengakomodasi ketidakpastian pada saat awal pengembangan.

 

Model Prototyping

Prototyping adalah proses iterative (berulang) dalam pengembangan sistem dimana requirement diubah ke dalam sistem yang bekerja (working system) yang secara terus menerus diperbaiki melalui kerjasama antara user dan analis. Prototype juga bisa dibangun melalui beberapa tool pengembangan untuk menyederhanakan proses.

Tahapan Model Prototyping

  1. Pengumpulan Kebutuhan

Pelanggan dan pengembang bersama-sama mendefinisikan format seluruh perangkat lunak, mengidentifikasikan semua kebutuhan, dan garis besar sistem yang akan dibuat.

  1. Membangun Prototyping

Membangun prototyping dengan membuat perancangan sementara yang berfokus pada penyajian kepada pelanggan (misalnya dengan membuat input dan format output).

  1. Menggunakan Sistem

Evaluasi ini dilakukan oleh pelanggan apakah prototyping yang sudah dibangun sudah sesuai dengan keinginann pelanggan.

  1. Mengkodekan Sistem

Dalam tahap ini prototyping yang sudah di sepakati diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman yang sesuai.

  1. Menguji Sistem

Setelah sistem sudah menjadi suatu perangkat lunak yang siap pakai, harus dites dahulu sebelum digunakan. Pengujian ini dilakukan dengan White Box, Black Box, Basis Path, pengujian arsitektur dan lain-lain.

  1. Evaluasi Sistem

Pelanggan mengevaluasi apakah sistem yang sudah jadi sudah sesuai dengan yang diharapkan.

  1. Evaluasi Protoptyping

Perangkat lunak yang telah diuji dan diterima pelanggan siap untuk digunakan.

https://binaryterms.com/wp-content/uploads/2020/03/Prototyping.jpg

Gambar 13. Model Prototyping

Kelebihan Model Prototyping

  • Prototype melibatkan user dalam analisa dan desain.
  • Punya kemampuan menangkap requirement secara konkret.
  • Digunakan untuk memperluas SDLC.

Kekurangan Model Prototyping

  • Proses analisis dan perancangan terlalu singkat.
  • Mengesampingkan alternatif pemecahan masalah.
  • Bisanya kurang fleksible dalam mengahdapi perubahan.
  • Protitype yang dihasilkan tidak selamanya mudah dirubah dan cepat selesai.

Model RAD (Rapid Application Development)

Rapid application development (RAD) atau rapid prototyping adalah model proses pembangunan perangkat lunak yang tergolong dalam teknik incremental (bertingkat). RAD menekankan pada siklus pembangunan pendek, singkat, dan cepat. Waktu yang singkat adalah batasan yang penting untuk model ini. Rapid application development menggunakan metode iteratif (berulang) dalam mengembangkan sistem di mana working model (model bekerja) sistem dikonstruksikan di awal tahap pengembangan dengan tujuan menetapkan kebutuhan (requirement) user dan selanjutnya disingkirkan. Working model digunakan kadang-kadang saja sebagai basis desain dan implementasi sistem final.

Model RAD mengadopsi model waterfall dan pembangunan dalam waktu singkat yang dicapai dengan menerapkan:

  1. Component based construction (pemrograman berbasis komponen bukan prosedural).
  2. Penekanan pada penggunaan ulang (reuse) komponen perangkat lunak yang telah ada.
  3. Pembangkitan kode program otomatis/semi otomatis.
  4. Multiple team (banyak tim), tiap tim menyelesaikan satu tugas yang selevel tetapi tidak sama. Banyaknya tim tergantung dari area dan kompleksitasnya sistem yang dibangun.

Jika keutuhan yang diinginkan pada tahap analisis kebutuhan telah lengkap dan jelas, maka waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan secara lengkap perangkat lunak yang dibuat adalah berkisar 60 sampai 90 hari. Model RAD hampir sama dengan model waterfall, bedanya siklus pengembangan yang ditempuh model ini sangat pendek dengan penerapan teknik yang cepat.

Sistem dibagi-bagi menjadi beberapa modul dan dikerjakan beberapa tim dalam waktu yang hampir bersamaan dalam waktu yang sudah ditentukan. Model ini melibatkan banyak tim, dan setiap tim mengerjakan tugas yang selevel, namun berbeda. Sesuai dengan pembagian modul sistem.

Tahapan Model RAD

  1. Requirements Planning (Perencanaan Syarat-Syarat)

Dalam fase ini, pengguna dan penganalisis bertemu untuk mengidentifikasikan tujuan-tujuan aplikasi atau sistem serta untuk megidentifikasikan syarat-syarat informasi yang ditimbulkan dari tujuan-tujuan tersebut. Orientasi dalam fase ini adalah menyelesaikan masalah-masalah perusahaan. Meskipun teknologi informasi dan sistem bisa mengarahkan sebagian dari sistem yang diajukan, fokusnya akan selalu tetap pada upaya pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.

  1. RAD Design Workshop (Workshop Desain RAD)

Fase ini adalah fase untuk merancang dan memperbaiki yang bisa digambarkan sebagai workshop. Penganalisis dan dan pemrogram dapat bekerja membangun dan menunjukkan representasi visual desain dan pola kerja kepada pengguna. Workshop desain ini dapat dilakukan selama beberapa hari tergantung dari ukuran aplikasi yang akan dikembangkan. Selama workshop desain RAD, pengguna merespon prototipe yang ada dan penganalisis memperbaiki modul-modul yang dirancang berdasarkan respon pengguna. Apabila sorang pengembangnya merupakan pengembang atau pengguna yang berpengalaman, Kendall menilai bahwa usaha kreatif ini dapat mendorong pengembangan sampai pada tingkat terakselerasi.

RAD_Design Workshop

Gambar 13. Model RAD

  1. Implementation (Implementasi)

Pada fase implementasi ini, penganalisis bekerja dengan para pengguna secara intens selama workshop dan merancang aspek-aspek bisnis dan nonteknis perusahaan. Segera setelah aspek-aspek ini disetujui dan sistem-sistem dibangun dan disaring, sistem-sistem baru atau bagian dari sistem diujicoba dan kemudian diperkenalkan kepada organisasi.

Kelebihan Model RAD

  • Proses pembuatan lebih mudah, karena penggunaan bahasa tingkat tinggi, script, intermediate code.
  • Pengembangan dilakukan dalam tataran bahasa yang lebih tinggi, karena tools RAD bekerja pada level ini.
  • Visibilitas awal karena prototyping
  • Membeli bisa lebih irit daripada membangun.
  • Lebih fleksibel karena developer/ pengembang bisa memodifikasi dengan mudah.
  • Reduksi drastis manual-coding ddengan wizard, code generators, code-reuse.
  • Meningkatkan keterlibatan pengguna.
  • Menekan kemungkinan kesalahan.
  • Bisa mereduksi biaya.
  • Siklus pengembangan lebih pendek.
  • Tampilan terstandarisasi.

Kekurangan Model RAD

  • Tidak cocok untuk proyek skala besar
  • Proyek bisa gagal karena waktu yang disepakati tidak dipenuhi.
  • Sistem yang tidak bisa dimodularisasi tidak cocok untuk model ini.
  • Resiko teknis yang tinggi juga kurang cocok untuk model ini

Model Spiral

Model spiral diperkenalkan pertama kali oleh Barry Boehm pada makalahnya yang berjudul Spiral Model of Software Development and Enhancement. Barry Boehm menjelaskan bahawa model spiral merupakan model yang sangat berguna untuk melakukan pembangunan proyek-proyek besar dan prosesnya dilakukan dengan memperhatikan resiko proyek sehingga pada akhirnya akan menghasilkan model proses yang tepat sesuai kebutuhan pengguna.

Model Spiral adalah salah satu metode yang dapat digunakan dalam pengembangan perangkat lunak. Model spiral merupakan penggabungan dari model prototyping dan model waterfall. Model prototyping yang fokus pada penyajian atau presentasi kepada user dengan format input dan output kemudian perangkat lunak akan dievaluasi. Model waterfall yang fokus kepada proses pengembangan perangkat lunak yang sistematis atau berurutan. Model spiral menekankan pada Analisa resiko setiap tahapannya.

Fungsi model spiral adalah untuk melakukan perubahan, penambahan dan pengembangan perangkat lunak dengan memaksimalkan aspek kecepatan dan ketepatan berdasarkan keinginan dan kebutuhan penggunanya.

Tahapan Model Spiral

Dalam penerapan Model Spiral, terdapat lima tahapan untuk merealisasikan penggunaannya, yaitu sebagai berikut:

  1. Tahap Liason

Tahap ini berhubungan dengan komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan softaware (seperti: system analyst) dengan pelanggan (user). Tujuannya adalah memperbaiki dan mengembangan software sesuai kebutuhan dan keinginan hingga memuaskan pelanggan.

  1. Tahap planning

Tahap perencanaan meliputi estimasi biaya yang digunakan, batas waktu, pengaturan jadwal, identifikasi lingkungan kerja, sumber-sumber informasi untuk melakukan iterasi (Teknik perulangan). Hasil dari tahapan ini adalah dokumen spesifikasi kebutuhan sistem dan bisnis.

  1. Tahap analisis risiko

Tahap analisis reisiki berfungsi untuk mengidentifikasi resiko yang berpotensi akan terjadi dan menghasilkan solusi alternatif secara teknis dan manajemen saat strategi mitigasi (upaya untuk mengurangi resiko bencana) direncanakan dan diselesaikan.

  1. Tahapan rekayasa (engineering)

Pada tahap rekayasa, beberapa kegiatan ini yang akan dilakukan, yaitu:

  • Menguji, coding dan mengembangkan software
  • Menginstal software
  • Membuat prototype
  • Mendesain dokumen
  • Meringkas suatu pengujian software
  • Membuat laporan atas kekurangan dari software agar segera diperbaiki
  1. Tahap evaluasi

Pada tahap evaluasi, system analyst membutuhkan masukan dan tanggapan dari para user dalam mengevaluasi perangkat/produk yang diuji dan memastikan bahwa produk dibutuhkan sesuai ketentuan yang telah dibicarakan diawal dengan user. System analyst memastikan pelanggan puas dengan produk yang akan dihasilkan untuk menjawab persoalan bisnis mereka. Selain itu, system analyst harus tetap memantau resiko yang akan terjadi seperti faktor-faktor yang dapat menyebabkan cost overrun (pembengkakan biaya).

https://sis.binus.ac.id/files/2019/04/art1.gif

Gambar 13. Model Spiral

Kelebihan Model Spiral

  • Pembangunan dan perubahan perangkat lunak yang terjadi dapat diselesaikan secara sistematis
  • Mudah dalam mengestimasi biaya karena proses pembuatan prototype yang jelas dan terencana dalam tahapan yang sistematis
  • Manajemen dan analisa risiko yang lebih cepat dan mudah
  • Mudah dalam melakukan perubahan kebutuhan dan dokumentasi
  • Produksi software bisa terjadi lebih cepat

Kekurangan Model Spiral

  • Tidak cocok dan sulit diimplementasikan dalam projek kecil
  • Memakan waktu yang cukup lama
  • Membutuhkan best practice atau pengalaman sebelumnya karena proses yang sangat kompleks
  • Resiko dalam tahap planning cukup besar. Misalnya terjadi perbedaan dalam jadwal pengembangan dan anggaran belanja.

Object Oriented Technology

Object Oriented Technology merupakan cara pengembangan perangkat lunak berdasarkan abstraksi objek-objek yang ada di dunia nyata. Dasar pembuatan adalah Objek, yang merupakan kombinasi antara struktur data dan perilaku dalam satu entitas. Filosofi Object Oriented sangat luar biasa sepanjang siklus pengenbangan perangkat lunak (perencanaan, analisis, perancangan dan implementasi) sehingga dapat diterapkan pada perancangan sistem secara umum: menyangkut perangkat lunak, perangkat keras dan system secara keseluruhan.

Tahapan Object Oriented Technology

Pada Object Oriented Technology ada beberapa metode yang digunakan dlam pengembagan sistem. Salah satu yang terkenal adalah OMT (Object Modelling Technique) yang diciptakan oleh Rambough. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam OMT ini adalah:

  • Model Objek
  • Model Dinamis
  • Model Fungsional

Dalam pengembangan sistem berbasis objek diperlukan tahapan proses analisis yang akan dilanjutkan dengan tahapan desain/perancangan sistem.

Software Architecture: Basic Training | Object-Oriented Technology ...

Gambar 13. Perbedaan Procedural Technology dengan Object-Oriented Technology

Keunggulan Object Modelling Technique

  • Uniformity

Pengembang cukup menggunakan satu metodelogi dari tahap analisis hingga perancangan. Dengan adanya perkembangan ke arah aplikasi GUI (graphical User interface), OMT memungkinkan merancangn user interface secara terintegrasi bersama dengan perancangan perangkat lunak sekaligus dengan perancangan basis data.

  • Understandability

Kode-kode yang dihasilkan dapat diorganisasi ke dalam kelas-kels yang berhubungan dengan masalah sesungguhnya sehingga lebih mudah dipahami.

  • Stability

Kode program yang dihasilkan relatif stabil sebab mendekati permasalahn sesungguhnya dilapangan.

  • Reusability

Dimungkinkan penggunaan kembali kode-kode sehingga akan mempercepat waktu pengembangan perangkat lunak.

Kelemahan Object Modelling Technique

  • Metode berorientasi objek merupakan konsep yang relatif baru sehingga belum ada standar yang diterima semua pihak dalam menentukan tool apa yang digunakan sebagai dasar analisi serat perancangan perangkat lunak.

Model Functional Decomposition

Metodologi ini menekankan pada pemecahan dari sistem ke dalam subsistem-subsistem yang lebih kecil, sehingga akan lebih mudah untuk dipahami, dirancang dan ditetapkan.

Yang termasuk dalam kelompok metodologi ini adalah:

  • HIPO (Hierarchy plus Input Process Output)
  • Stepwise Refinement (SR) atau Iterative Stepwise Refinement (ISR)
  • Information Hiding

ME 491: Functional Decomposition

Gambar 13. Functional Decomposition Diagram

Data Oriented Methodologies

Metodologi ini menekankan pada karakteristik dari data yang akan diproses.

Dikelompokkan ke dalam dua kelas, yaitu:

  1. Data flow oriented methodologies, sistem secara logika dapat digambarkan secara logika dari arus data dan hubungan antar fungsinya di dalam modul-modul di sistem. Yang termasuk dalam metodologi ini adalah:
  • SADT (Structured Analysis and Design Techniques)
  • Composite Design
  • SSAD (Structured System Analysis and Design)
  1. Data Structured oriented methodologies, Metodologi ini menekankan struktur dari input dan output di sistem. Yang termasuk dalam metodologi ini adalah:
    • JSD (Jackson’s System Development)
    • W/O (Warnier/Orr)

Prescriptive Methodologies

Yang termasuk dalam metodologi ini adalah ISDOS (Information System Design dan Optimization System), merupakan perangkat lunak yang dikembangkan di University of Michigan. Kegunaan dari ISDOS adalah mengotomatisasi proses pengembangan system informasi. ISDOS mempunyai dua komponen, yaitu:

  1. PSL (Program Statement Language), merupakan komponen utama dari ISDOS, yaitu suatu bahasa untuk mencatat kebutuhan pemakai dalam bentuk machine readable form. PSL dirancang sehingga output yang dihasilkannya dapat dianalisis oleh PSA. PSL merupakan bahasa untuk menggambarkan sistemnya dan bukan merupakan bahasa pemrograman prosedural.
  2. PSA (Program Statement Analyzer) merupakan paket perangkat lunak yang mirip dengan kamus data (data dictionary) dan digunakan untuk mengecek data yang dimasukkan, disimpan, dianalisis dan yang dihasilkan sebagai output laporan.

Model V

Model ini merupakan perluasan dari model waterfall. Disebut sebagai perluasan karena tahap-tahapnya mirip dengan yang terdapat dalam model waterfall. Jika dalam model waterfall proses dijalankan secara linear, maka dalam model V proses dilakukan bercabang.

Tahapan Model V

  1. Requirement Analysis & Acceptance Testing

Tahap Requirement Analysis sama seperti yang terdapat dalam model waterfall. Keluaran dari tahap ini adalah dokumentasi kebutuhan pengguna. Acceptance Testing merupakan tahap yang akan mengkaji apakah dokumentasi yang dihasilkan tersebut dapat diterima oleh para pengguna atau tidak

  1. System Design & System Testing

Dalam tahap ini analis sistem mulai merancang sistem dengan mengacu pada dokumentasi kebutuhan pengguna yang sudah dibuat pada tahap sebelumnya. Keluaran dari tahap ini adalah spesifikasi software yang meliputi organisasi sistem secara umum, struktur data, dan yang lain. Selain itu tahap ini juga menghasilkan contoh tampilan window dan juga dokumentasi teknik yang lain seperti Entity Diagram dan Data Dictionary.

  1. Architecture Design & Integration Testing

Sering juga disebut High Level Design. Dasar dari pemilihan arsitektur yang akan digunakan berdasar kepada beberapa hal seperti: pemakaian kembali tiap modul, ketergantungan tabel dalam basis data, hubungan antar interface, detail teknologi yang dipakai.

  1. Module Design & Unit Testing

Sering juga disebut sebagai Low Level Design. Perancangan dipecah menjadi modul-modul yang lebih kecil. Setiap modul tersebut diberi penjelasan yang cukup untuk memudahkan programmer melakukan coding. Tahap ini menghasilkan spesifikasi program seperti: fungsi dan logika tiap modul, pesan kesalahan, proses input-output untuk tiap modul, dan lain-lain.

  1. Coding

Dalam tahap ini dilakukan pemrograman terhadap setiap modul yang sudah dibentuk.

What is V Model in Software Testing | Testbytes

Gambar 13. Model V

Kelebihan Model V

  • V Model sangat fleksibel. V Model mendukung project tailoring dan penambahan dan penguranganmethod dan tool secara dinamik. Akibatnya sangat mudah untuk melakukan tailoring pada V Model agar sesuai dengan suatu proyek tertentu dan sangat mudah untuk menambahkan method dan toolbaru atau menghilangkan method dan tool yang dianggap sudah obsolete.
  • V Model dikembangkan dan di-maintain oleh publik. User dari V Model berpartisipasi dalamchange control board yang memproses semua change request terhadap V Model.

Kekurangan Model V

  • V Model adalah model yang project oriented sehingga hanya bisa digunakan sekali dalam suatu proyek.
  • V Model adalah model yang project oriented sehingga hanya bisa digunakan sekali dalam suatu proyek.

Penggunaan Model V

V Model digunakan dalam proyek teknologi informasi di negara Jerman. Hal ini berlaku terutama untuk proyek teknologi informasi pada pada sektor pertahanan negara Jerman. Selain itu, V Model juga digunakan oleh software developer negara Jerman untuk proyek teknologi informasi lain.

Metode End-user Development

Disini pengembangan dilakukan langsung oleh end-user. Keterlibatan langsung end-user sangat menguntungkan, karena memahami benar bagaimana sistem bekerja. Artinya tahap analisis sistem dapat dilakukan lebih cepat. Kelemahan adalah pada pengendalian mutu dan kecenderungan tumbuhnya “private”sistem informasi. Integrasi dengan sistem yang lain menjadi sulit.

Tahapan EUD

  1. Tahap inisasi (initiation)

Yaitu tahap dimana organisasi (perusahaan) mulai pertama kali mngenal teknologi informasi.

  1. Tahap ketularan (contagion)

Yaitu tahap diamana organisasi (perusahaan) sudah mulai banyak yang menggunakan teknologi informasi meskipun ini dilakukan atau tidak terlalu mempertimbangkan untung ruginya dari penggunaan teknologi informasi ini.

  1. Tahap kendali (control)

Pada tahap ini organisasi (perusahaa) sudah mulai selektif di dalam penggunaan teknologi informasi. Ada hal yang dijadikan pertimbangan sebelum memutuskan penggunaan teknolgi informasi seperti pertimbangan untung rugi.

  1. Tahap matang (mature)

Pada tahap ini organisasi (perusahaan) menggunakan teknologi informasi tidak hanya mempertimbangakan keuntungan (benfit) yang akan didapatkan serta berapa biaya (cost) yang harus dikeluarkan tetapi lebih dari itu bagaimana teknologi informasi yang digunakan dapat dijadikan sebagai alat keunggulan di dalam bersaing

Gambar 13. Model EUD

Kelebihan EUD

  • Dapat menghindari permasalahan kemacetan di departemen sistem informasi.
  • Kebutuhan pemakai sistem dapat lebih terpenuhi karena dapat dikembangkan sendiri oleh pemakai.
  • Menambah atau meningkatkan partisifasi aktif pemakai dalam proses pengembangan sistemnya sehingga akan ada kepuasan sendiri dari pemakai sistem.
  • Dapat menambah kualitas pemahaman pemakai terhadap aplikasi yang dikembangkan serta teknollogi yang digunakan dalam sistem.

Kekurangan EUD

  • Karena pemakai sistem harus mengembangkan aplikasinya sendiri, maka dalam hal ini pemakai sekaligus pengembang sistem dituntut untuk memiliki pemahaman mengenai teknologi informasi (computer literacy) serta pemahaman tentang pengembangan sistem infomasi.
  • End user computing memiliki resiko dapat menggangu bahkan merusak system informasi di luar yang dikembangkan oleh pemakai sistem.
  • End user computing pasti akan berhadapan dengan maslah kemampuan teknis pemakai sekaligus pengembang sistem.

Soft System Methodology

Soft systems methodology (SSM) merupakan sebuah pendekatan untuk memecahkan situasi masalah kompleks yang tidak terstruktur berdasarkan analisis holistic dan berpikir system. SSM juga merupakan sebuah metodologi partisipatori yang dapat membantu para stakeholders yang berbeda untuk mengerti perspektif masing-masing stakeholders. Fokus SSM adalah untuk menciptakan system aktivitas dan hubungan manusia dalam sebuah organisasi atau grup dalam rangka mencapai tujuan bersama.

Berpikir system merupakan suatu bidang transdisiplin yang muncul sebagai respon terhadap keterbatasan dari pendekatan teknikal dalam proses reduksi untuk memecahkan masalah. SSM dibangun selama tahun 1980an oleh organisasi/lembaga yang menyadari bahwa pendekatan mekanikal secara top down dalam mengorganisasi manajemen tidak bekerja secara cepat untuk mengubah lingkungan sekitarnya. SSM digunakan untuk memfasilitasi proses perubahan di banyak sektor swasta dan organisasi publik.

Dasar SSM berangkat dari pemikiran bahwa jika partisipasi seseorang dalam suatu proses menemukan situasi masalah serta cara untuk memperbaikinya, maka orang tersebut akan lebih suka untuk mengerti perbaikan yang diharapkan, merasa memiliki permasalahan tersebut, dan berkomitman untuk merubahnya

SSM adalah sebuah metodologi yang cocok untuk membantu suatu organisasi dalam menjelaskan tujuan mereka dan kemudian merancang sistem aktivitas manusia untuk mencapai tujuan tersebut.

Tahapan SSM

SSM didiskripsikan sebagai tujuh tahap proses analisis yang menggunakan konsep human activity dalam memahami situasi di sekitarnya untuk menentukan aksi yang perlu diambil dalam rangka mengembangkan situasi yang ada. Ketujuh tahap SSM tersebut adalah:

  • Identifikasi situasi masalah yang tidak terstruktur.
  • Situasi masalah digambarkan lebih terstruktur.
  • Membuat definisi awal dari sistem yang bersangkutan.
  • Membuat dan menguji model secara konseptual.
  • Membandingkan model konseptual dengan kenyataan.
  • Mengidentifikasikan perubahan kemungkinan dan keinginan elemen sistem.
  • Memperbaiki situasi atau memecahkan masalah.

Cross-Industry Standard Process for Data Mining (CRISP-DM)

Dalam menanggapi isu-isu umum dan kebutuhan dalam proyek data mining dipertengahan 90-an, kelompok organisasi yang terlibat dalam data mining yang terdiri dari Teradata, SPSS-ISL, Daimler-Chrysler dan Ohra, mengusulkan panduan referensi untuk mengembangkan proyek-proyek data mining, bernama CRISP-DM (Cross Industry Standard Process for Data Mining). CRISP-DM sebagai de facto standar untuk pengembangan proyek data mining dan knowledge discovery karena paling banyak digunakan dalam pengembangan data mining. Selain cocok untuk diterapkan pada studi kasus Data Mining, CRISP-DM juga dapat digunakan dengan baik pada Decision Support System. Hal tersebut dapat terlihat dari survei yang dilakukan terhadap penggunaan metodologi dalam proyek data mining, sebagai berikut:

Gambar 13. Penggunaan Metodologi dalam Proyek Data Mining Tahun 2002-2007

Hasil survei “Penggunaan Metodologi dalam Proyek Data Mining”, memperlihatkan pengguna CRISP-DM di tahun 2002 mencapai 51%, kemudian menurun menuju 41% di tahun 2004. Meskipun persentasi penggunaan CRISP-DM menurun 10%, jumlah pengguna metodologi ini masih terbilang lebih banyak daripada pengguna metodologi lain. Pada tahun 2014 dilakukan kembali survey yang sama dengan hasil yang tidak jauh berbeda dengan pada tahun 2007, masih dengan CRISP-DM sebagai jumlah pengguna metodologi terbanyak sebanyak 43%.

Gambar 13. Penggunaan Metodologi dalam Proyek Data Mining Tahun 2007-2014

Model referensi CRISP-DM untuk data mining memberikan gambaran umum dari siklus hidup proyek data mining. Ini berisi fase proyek, tugas masing-masing, dan outputnya. Siklus hidup proyek data mining dipecah menjadi enam fase. Urutan fase tidak ketat. Panah menunjukkan hanya dependensi yang paling penting dan sering antara fase, tetapi dalam proyek tertentu, itu tergantung pada hasil dari setiap fase yang fase, atau tugas tertentu dari suatu fase, harus dilakukan selanjutnya.

Lingkaran luar pada Gambar 13. 12 melambangkan sifat siklik dari data mining itu sendiri. Data mining tidak selesai setelah solusi digunakan. Pelajaran yang dipetik selama proses dan dari solusi yang digunakan dapat memicu pertanyaan bisnis baru yang seringkali lebih terfokus. Proses data mining selanjutnya akan mendapat manfaat dari pengalaman yang sebelumnya.

Gambar 13. Model Proses CRISP-DM

Tahapan CRISP-DM

  1. Business Understanding (Pemahaman Bisnis)

Fase awal ini berfokus pada memahami tujuan dan persyaratan proyek dari perspektif bisnis, dan kemudian mengubah pengetahuan ini menjadi definisi masalah data mining, dan rencana proyek awal yang dirancang untuk mencapai tujuan.

  1. Data Understanding (Pemahaman Data)

Tahap pemahaman data dimulai dengan pengumpulan data awal dan dilanjutkan dengan kegiatan untuk membiasakan diri dengan data, untuk mengidentifikasi masalah kualitas data, untuk menemukan pengetahuan awal ke dalam data, atau untuk mendeteksi subset yang menarik untuk membentuk hipotesis untuk informasi tersembunyi.

Ada hubungan erat antara Pemahaman Bisnis dan Pemahaman Data. Perumusan masalah data mining dan rencana proyek membutuhkan setidaknya beberapa pengertian dari data yang tersedia.

  1. Data Preparation (Persiapan Data)

Fase persiapan data mencakup semua kegiatan untuk menyusun dataset akhir (data yang akan dimasukkan ke dalam alat pemodelan) dari data mentah awal. Tugas persiapan data cenderung dilakukan beberapa kali, dan tidak dalam urutan yang ditentukan. Tugas meliputi tabel, catatan, dan pemilihan atribut, pembersihan data, pembangunan atribut baru, dan transformasi data untuk alat pemodelan.

  1. Modeling (Pemodelan)

Dalam fase ini, berbagai teknik pemodelan dipilih dan diterapkan, dan parameternya dikalibrasi ke nilai optimal. Biasanya, ada beberapa teknik untuk jenis masalah data mining yang sama. Beberapa teknik memerlukan format data tertentu. Ada hubungan erat antara Persiapan dan Pemodelan Data. Seringkali, orang menyadari masalah data saat pemodelan atau orang mendapatkan ide untuk membangun data baru.

  1. Evaluation (Evaluasi)

Pada tahap ini dalam proyek Anda telah membangun satu atau lebih model yang tampaknya memiliki kualitas tinggi, dari perspektif analisis data. Sebelum melanjutkan ke penyebaran akhir dari model, penting untuk lebih teliti mengevaluasi model, dan meninjau langkah-langkah yang dilakukan untuk membangun model, untuk memastikan itu benar mencapai tujuan bisnis. Tujuan utama adalah untuk menentukan apakah ada beberapa masalah bisnis penting yang belum dipertimbangkan secara memadai. Pada akhir fase ini, keputusan tentang penggunaan hasil data mining harus dicapai.

  1. Deployment (Penyebaran)

Pembuatan model umumnya bukan akhir dari proyek. Biasanya, pengetahuan yang diperoleh perlu diatur dan disajikan sedemikian rupa sehingga pelanggan dapat menggunakannya. Bergantung pada persyaratan, fase penyebaran bisa sesederhana menghasilkan laporan atau serumit penerapan proses data mining yang berulang. Dalam banyak kasus akan menjadi pengguna, bukan analis data, yang akan melakukan langkah-langkah penyebaran. Bagaimanapun, penting untuk memahami di muka tindakan apa yang perlu dilakukan untuk benar-benar memanfaatkan model yang dibuat.

Gambar 13. Tinjauan tugas CRISP-DM dan output-nya

Daftar Pustaka

  • Alinezhad, A., & Khalili, J. (2019). New Methods and Applications in Multiple Attribute Decision Making (MADM) (1st ed.). Switzerland: Springer.
  • Kusrini. (2007). Konsep dan Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan (1st ed.). Yogyakarta: Penerbit ANDI.
  • Nofriansyah, D., & Defit, S. (2017). Multi Criteria Decison Making (MCDM) pada Sistem Pendukung Keputusan. Yogyakarta: DeePublish.
  • Turban, E., Aronson, J. E., & Liang, T.-P. (2007). Decision Support Systems and Intelligent Systems (7th ed.). New Delhi: Prentice-Hall, Inc.
  • Tzeng, G.-H., & Huang, J.-J. (2011). Multiple Attribute Decision Making, Method and Applications (1st ed.). Abingdon, UK: Taylor & Francis Group.

 20 total views,  2 views today

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *