Human Computer Interaction (HCI) – Pertemuan 04 – Materi

Gede Surya Mahendra - Home

Human Computer Interaction (HCI) – Pertemuan 04 – Materi

Stiki Logo - Short

Mata Kuliah : Human Computer Interaction

Kode Mata Kuliah : MKK-224

Program Studi : Teknik Informatika

STIMIK STIKOM Indonesia

PERTEMUAN 04

Untuk tampilan lebih baik, dapat mendownload file PDF pada link yang tersedia

Kemampuan Akhir yang Diharapkan:

Mahasiswa mampu memahami Usability dan Analisis.

Bahan Kajian:

  • Usability
  • Analisis

Metode Pembelajaran:

  • Pembelajaran resitasi, dengan topik Usability dan Analisis

Pengalaman Pembelajaran:

  • Mengerjakan tugas terkait dengan Usability dan Analisis

Kriteria Penilaian dan Indikator:

  • Kelengkapan dan kebenaran penjelasan tugas.

 

Download File Materi PDF

Download File Slide Perkuliahan PDF 

 

TINJAUAN

  1. Usability Testing
  2. Mengukur Usability
  3. Melakukan Usability Testing

MATERI

Usability Testing

Usability test adalah cara untuk mengevaluasi sebuah produk atau jasa dengan cara mengujinya kepada calon pengguna. Umumnya, selama pengujian, pengguna akan mencoba untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, sementara pemilik produk akan mengamati, mendengar, dan mencatat temuan. Tujuan dari usability testing adalah mencari permasalahan kegunaan, mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif, serta menentukan kepuasan pengguna dengan produk tersebut.

    1. Menentukan apa yang akan dites

mencari tahu apakah user bisa dengan mudah menambah produk. menguji atau melakukan usability testing pada fitur Add Product.

    1. Mempersiapkan prototipe

Prototipe adalah bentuk awal dari sebuah produk dengan fungsi yang belum lengkap. Prototipe ini digunakan untuk mencari tahu respons dari calon pengguna.

    1. Mempersiapkan skenario

Proses usability testing bukan sebuah proses yang hanya menunjukkan desain lalu bertanya kepada user: “kira- kira untuk menambah produk, harus pencet mana ya?”

    1. Mencari siapa yang akan dites

menentukan siapa yang akan menggunakan aplikasi ini. Setelah berdiskusi dengan anggota tim, akhirnya mereka mendapat perkiraan kriteria pengguna aplikasi seperti di bawah ini:

  • Pria/ wanita
  • Berumur 23–40 tahun
  • Familier dengan smartphone

Kriteria tersebut memudahkan untuk mencari siapa yang akan dimintai untuk mencoba prototipenya.

    1. Mempersiapkan tempat untuk melakukan testing

bahwa tempat paling ideal untuk melakukan usability testing adalah sebuah ruangan. Dengan menggunakan ruangan seperti itu, bisa lebih leluasa mengobrol dengan tester tanpa ada gangguan.

Mempersiapkan perekam

page24image23949296

bisa saja melewatkan beberapa hal kecil saat melakukan usability testing, seperti ucapan atau gerak tangan tester saat mencoba prototipe.

    1. Membuat success metrics

Dalam usability testing kali ini, hanya menggunakan completion rate sebagai success metrics.

page25image23911744

    1. Menyiapkan hadiah untuk tester

untuk melakukan usability testing merasa perlu untuk memberikan hadiah karena para tester telah meluangkan waktunya untuk datang dan melakukan usability testing.

    1. Menyampaikan skenario

Menyampaikan skenario kepada tester sebelum tester mencoba prototipe. Harapannya, agar si tester lebih fokus terhadap skenario yang disampaikan.

    1. Mempersilakan tester mencoba prototipe

Sebelum tester mencoba prototipe, meminta tester untuk mengatakan apapun yang dirasakannya saat mencoba prototipe. Hal ini bertujuan agar mengetahui perasaan tester, entah itu perasaan bingung, mengerti, dan sebagainya.

    1. Iterasi

Setelah usability testing ini, maka akan melakukan usability testing lagi untuk memastikan apakah desainnya sudah mudah digunakan atau belum. Demikianlah proses yang lewati untuk melakukan usability testing.

Lalu pertanyaannya, berapa kali harus melakukan usability testing untuk memastikan desainnya sudah benar-benar mudah digunakan? Tujuan usability testing adalah mencari permasalahan di bagian alur utama sebuah produk. Jadi jika alur tersebut dirasa sudah mudah digunakan, maka tidak perlu dilakukan usability testing lagi.

Mengukur Usability

Apa itu Usability (Kegunaan)? Kegunaan adalah perpotongan antara keefektifan, efisiensi dan kepuasan dalam konteks penggunaan. Dengan kata lain, ini semua tentang menyelesaikan sesuatu dan seberapa bahagia seorang pengguna ketika mencoba menyelesaikan sesuatu.

Kita dapat mengukur kegunaan dengan menguji suatu produk (atau produk pesaing). Tes awal memberi kita “keadaan sebelum”, yang sama berharganya dengan “setelah keadaan”. Ini memungkinkan untuk membandingkan desain Anda atau bagaimana Anda menumpuk melawan pesaing Anda.

Setelah Anda memiliki gagasan tentang keefektifan, efisiensi, dan seberapa puas pelanggan Anda dengan pengalaman yang dapat Anda tetapkan untuk membuat desain baru guna meningkatkan tindakan tersebut.

Metrik untuk mengukur dan menghitung usability:

    1. Ukur efektivitas

Jika pengguna berjuang dengan menyelesaikan tugas, baik karena frustrasi atau ketidakmampuan untuk menemukan langkah berikutnya, anda dapat mempertimbangkan hal-hal berikut:

  • Pastikan tombol terlihat seperti tombol
  • Buat opsi klik-tayang yang jelas (misalnya mengeklik ubin mungkin tampak jelas bagi anda tetapi bagi pengguna mungkin tidak intuitif)
  • Sederhanakan alur kerja anda
  • Kurangi kurva pembelajaran menggunakan sistem dengan menyertakan onboarding jika perlu
    1. Ukur efisiensi

Metrik efisiensi mengacu pada waktu rata-rata yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap tugas. Di samping ini, Anda juga dapat menghitung rentang dan standar deviasi. Ini adalah metrik utama yang biasanya Anda lihat, tetapi ada banyak metrik lain yang dapat Anda kumpulkan:

  • Waktu yang diambil pada upaya pertama
  • Saatnya melakukan tugas dibandingkan dengan seorang ahli
  • Waktu mengoreksi kesalahan
    1. Mengukur kepuasan

Kepuasan dapat diukur dan dihitung dengan menggunakan “sistem kegunaan skala”. Skala standar memiliki sepuluh pertanyaan yang mengukur pengguna kesan keseluruhan dari kegunaan dari perangkat lunak. Anda juga dapat menambahkan lebih banyak pertanyaan untuk kuesioner anda, namun, dalam pengalaman saya cara terbaik untuk menggunakan skala SUS karena hal ini sangat populer dan oleh karena itu ada standar industri yang anda dapat mengukur melawan.

Misalnya, jika Anda melakukan tes dengan empat orang dan, secara keseluruhan, Anda mendapatkan nilai kurang dari 78%, mungkin itu adalah indikator yang baik bahwa Anda perlu untuk tetap bekerja pada mendesain ulang alur kerja atau antarmuka untuk meningkatkan tingkat kepuasan pengguna.

Melakukan Usability Testing

Bagaimana Melakukan Usability Testing dari Awal sampai Akhir

page36image23916944

Usability testing dapat dilakukan dalam berbagai bentuk: studi santai di kafetaria, uji lab secara formal, studi online task-based secara remote dan lainnya. Apapun metode yang kamu pilih, kamu perlu melalui 5 fase berikut:

  • Mempersiapkan produk atau desain untuk diuji
  • Mencari partisipan
  • Menuliskan rencana test
  • Menjadi moderator
  • Mempresentasikan hasil temuanmu

Sebuah usability test bisa dilakukan dengan sangat sederhana seperti menghampiri seorang asing di Starbucks dan meminta mereka menggunakan sebuah aplikasi. Atau bisa juga dilakukan dengan keterlibatan yang lebih tinggi seperti mengadakan studi online dengan meminta partisipan merespon menggunakan mobile phone mereka.

Usability testing adalah metode yang efektif karena kamu bisa mengamati calon pengguna produkmu untuk menemukan apa yang sudah berfungsi dengan baik dan apa yang perlu dikembangkan. Ini bukan tentang meminta partisipan memberitahumu apa yang perlu diubah. Ini adalah tentang mengobservasi mereka selama penggunaan, mendengarkan kebutuhan serta concern mereka, dan mempertimbangkan apa yang dapat dilakukan untuk menciptakan pengalaman yang lebih baik.

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam usability testing adalah mengadakannya saat proses desain sudah ada di tahapan akhir. Jika kamu menunggu sampai persis sebelum produkmu dirilis, kamu tidak akan mempunyai waktu atau uang untuk memperbaiki isu apapun – dan kamu akan menyia-nyiakan usaha yang sudah dilakukan untuk product development. Lakukanlah beberapa test skala kecil sepanjang proses pembuatan, bahkan ketika desain masih berbentuk sketsa di kertas.

Menciptakan desain atau produk untuk diuji

  • Bagaimana kamu memutuskan apa yang perlu diuji? Mulainya dengan menguji apa yang sedang kamu kerjakan.
  • Apakah kamu memiliki pertanyaan mengenai bagaimana desainmu akan bekerja saat digunakan, seperti interaksi atau workflow tertentu? Ini adalah alasan yang tepat untuk melakukan test.
  • Apakah kamu bertanya-tanya apa yang dilihat oleh pengguna pada homepagemu? Atau apa yang akan mereka lakukan pertama kali? Inilah saat yang tepat untuk bertanya.
  • Berencana mendesain ulang sebuah website atau app? Ujilah versi yang ada saat ini untuk memahami apa yang belum bekerja dengan baik sehingga kamu bisa menangani isu yang tepat.

Setelah kamu mengetahui apa yang ingin kamu uji, pikirkanlah goal yang ingin kamu capai melalui studi ini. Berusahalah sespesifik mungkin, karena kamu akan menggunakan goal ini untuk menentukan tugas yang perlu dilakukan oleh pengguna. Sebuah goal bisa saja luas, seperti “Bisakah orang menemukan produk yang mereka butuhkan di website ini?” atau goal bisa spesifik, seperti “Apakah orang-orang memperhatikan link yang ada untuk mempelajari lebih lanjut mengenai produk tertentu di halaman ini?”

Kamu juga perlu menentukan cara menampilkan desainmu untuk studi tersebut. Jika kamu mempelajari sebuah app atau website yang sedang dikerjakan, kamu bisa menggunakan app atau website tersebut. Untuk ide desain awal, kamu bisa menggunakan prototype yang dibuat di kertas dengan pensil atau dengan software lain seperti PowerPoint.

Jika kamu sudah ada di tahap selanjutnya dalam ide dan pembuatan produk, dan kamu ingin menampilkan desain yang lebih interaktif, kamu bisa membuat prototype interaktif menggunakan Balsamiq atau Axure. Apapun yang kamu ciptakan, pastikan partisipanmu dapat mengerjakan task yang ingin kamu uji.

Temukan partisipanmu

Dalam menentukan partisipan, pertimbangkan siapa yang akan menggunakan produkmu dan bagaimana kamu bisa menemukan mereka.

page47image23912784 page47image23914448

page48image23908832

Kamu mungkin masih bingung dengan jumlah partisipan yang kamu butuhkan. Seorang ahli usability, Jakob Nielsen, berkata dengan 5 partisipan kamu bisa menangkap 85% isu usability dalam sebuah desain – dan kamu bisa mendapatkan 15% sisanya dengan 15 pengguna. Idealnya, kamu perlu melakukan test dengan 5 pengguna, lakukan pengembangkan, adakan test lagi dengan 5 orang berbeda, lakukan pengembangan, dan lakukan test lagi dengan 5 orang. (Sebagai panduan umum, rekrutlah satu orang lebih banyak dari jumlah yang kamu butuhkan, karena biasanya ada satu orang yang akan tidak hadir pada hari H.)

Siapapun yang mengikuti usability testingmu, kamu perlu menawarkan sejenis insentif, seperti uang tunai atau gift card, atas kesediaan mereka meluangkan waktu. Ratenya berbeda di berbagai negara. Umumnya, kamu perlu memberikan insentif lebih banyak jika test dilakukan secara tatap muka (karena partisipan harus menempuh perjalanan untuk bertemu denganmu), dan lebih sedikit jika test dilakukan secara remote, melalui layanan seperti WebEx. Partisipan yang sulit ditemui – seperti dokter atau kaum profesional lain yang sibuk – akan membutuhkan kompensasi yang lebih besar.

Membuat Perencanaan Test

Agar kamu tetap terorganisir, kamu perlu perencanaan test, meskipun itu hanya studi kasual. Perencanaan akan memudahkanmu berkomunikasi dengan pemangku jabatan dan anggota tim desain yang mungkin ingin memberikan masukan untuk usability test dan, tentunya, membantumu untuk tetap on track pada saat pelaksanaan test tersebut. Di sinilah kamu bisa membuat list mengenai setiap detil testmu. Berikut ini adalah beberapa bagian untuk perencanaan testmu:

Study goals: Goal ini perlu disetujui oleh setiap pemangku jabatan, dan ini akan membantumu menentukan task yang akan diberikan. Informasi sesi: Ini adalah list waktu setiap sesi serta partisipan yang terlibat. Kamu juga bisa memasukkan informasi mengenai bagaimana pemangku jawaban dan desainer dapat masuk/log in ke dalam sesi untuk mengobservasi. Contohnya, kamu bisa berbagi – dan merekam – sesi-sesi yang ada menggunakan WebEx atau gotomeeting.

Informasi mengenai latar belakang test dan non- disclosure agreement: Tulislah sebuah script untuk menjelaskan tujuan dari studi ini kepada partisipan; sampaikan bahwa kamu sedang menguji software, bukan menguji mereka. Informasikan kepada mereka jika kamu akan merekam sesi tersebut; dan pastikan mereka mengerti bahwa apapun yang mereka lihat saat test berlangsung tidak boleh mereka ceritakan/bagikan kepada siapapun (cara terbaik adalah meminta setiap partisipan menandatangani non-disclosure agreement).

Mintalah mereka untuk berpikir sambil bersuara selama studi sehingga kamu bisa memahami pemikiran mereka. Lalu, mintalah mereka untuk melakukan tasks yang ingin kamu uji. Contohnya, untuk mempelajari sebaik apa seorang partisipan dapat menavigasi sebuah produk, kamu bisa meminta mereka mulai dari homepage dan berkata, “Kamu ada di sini untuk membeli alarm kebakaran. Apa yang perlu kamu lakukan untuk menyelesaikan task tersebut?” Juga persiapkan follow-up questions yang ingin kamu tanyakan, seperti “Seberapa mudah atau sulit task tersebut?” dan sediakan sebuah skala rating.

Kesimpulan:

Di akhir studi/test, kamu bisa bertanya pada para pengamat jika mereka punya pertanyaan tambahan bagi partisipan, dan tanyakan kepada partisipan jika ada di antara mereka yang ingin menyampaikan sesuatu.

Memulai dengan sebuah template bisa membantumu merencanakan test.

Jadilah Seorang Moderator

Adalah tugasmu sebagai seorang moderator – orang yang memimpin sesi-sesi usability test – untuk memastikan setiap sesi berjalan dengan lancar dan tim mendapat informasi yang mereka butuhkan untuk mengembangkan desain mereka. Kamu perlu membuat partisipan merasa nyaman sambil terus memastikan bahwa mereka mengerjakan setiap task, serta meminimalisir atau me-manage kesulitan teknis atau isu lain yang mungkin muncul. Tetaplah bersikap netral. Kamu bisa melakukannya!

Perencanaan test adalah panduanmu. Melakukan sebuat pilot study – atau test run – sehari sebelum sesi sesungguhnya juga dapat membantu performamu sebagai moderator karena kamu bisa berlatih mengerjakan setiap aspek dari test tersebut.

Amati dan Dengarkan

Selama test berlangsung, ingatlah bahwa tugasmu adalah untuk diam dan mendengarkan; biarkan partisipan yang berbicara. Dengan cara itulah kamu dan timmu bisa belajar sesuatu. Bersiaplah untuk bertanya “kenapa?” atau “tolong jelaskan pada saya lebih lanjut” agar partisipan bisa menguraikan pemikiran mereka dengan lebih jelas. Jagalah pertanyaan dan bahasa tubuhmu agar tetap terlihat netral, dan hindari ‘menggiring’ partisipan untuk memberikan respon tertentu.

Selama sesi berlangsung, seseorang perlu mencatat. Idealnya, kamu memiliki seorang note- taker sehingga kamu bisa fokus memimpin sesi sebagai moderator. Jika tidak, kamulah yang perlu melakukan kedua hal ini bersamaan. Seperti apapun kondisinya, siapkan sheet untuk mencatat di sebuah spreadsheet tool (saya menggunakan Excel) untuk menyederhanakan prosesnya saat pelaksanaan test dan saat menganalisa data. Salah satu cara untuk lebih terorganisir adalah dengan menuliskan nama setiap partisipan pada bagian kolom dan menuliskan pertanyaan/task pada bagian baris (row). Pelajari lebih lagi tentang menulis observasi research yang efektif.

Selain mencatat, rencanakan untuk merekam sesi menggunakan WebEx atau Camtasia sebagai backup kalau-kalau kamu melewatkan sesuatu. Kamu bisa menemukan list tools yang bermanfaat di sini.

Pastikan kamu siap menghadapi hal yang tidak sesuai rencana (dan biasanya selalu ada sesuatu yang terjadi). Pertimbangkan hal-hal berikut:

Beberapa partisipan akan terlambat beberapa menit. Jika ini terjadi, apakah mereka masih diijinkan berpartisipasi, apakah task atau pertanyaan dengan prioritas paling rendah yang akan kamu hilangkan?

Prototype software bisa saja berhenti bekerja atau terkena bug. Cobalah untuk selalu punya backup – seperti screenshots di kertas – jika memang hal ini mungkin dilakukan.

Pastikan kamu siap menghadapi hal yang tidak sesuai rencana (dan biasanya selalu ada sesuatu yang terjadi). Pertimbangkan hal-hal berikut:

Beberapa partisipan akan terlambat beberapa menit. Jika ini terjadi, apakah mereka masih diijinkan berpartisipasi, apakah task atau pertanyaan dengan prioritas paling rendah yang akan kamu hilangkan?

Prototype software bisa saja berhenti bekerja atau terkena bug. Cobalah untuk selalu punya backup – seperti screenshots di kertas – jika memang hal ini mungkin dilakukan.

Remote Testing

Jika kamu melakukan remote study tanpa moderator, remote tool – seperto UserZoom atau Loop11 – akan berperan sebagai moderator. Karena adanya jarak, kamu perlu menuliskan introduction untuk membangun nuansa atau suasana dari test ini dan menyediakan informasi mengenai latar belakang studi; mempresentasikan setiap task dengan efektif; dan memastikan bahwa pengguna tetap on track. Sangat penting untuk menguji remote studies sebanyak mungkin sebelum mengadakan studi sesungguhnya untuk mengantisipasi kesulitan teknis.

Mempresentasikan Hasil Temuanmu

Selama pelaksanaan sesi, kamu bisa mencatat poin-poin penting yang kamu lihat, khususnya yang berhubungan dengan goal dari studi ini. Cobalah berbicara dengan para pengamat setelah setiap sesi berakhir atau di akhir hari untuk mengetahui pembelajaran yang mereka dapat. Setelah semua sesi selesai, lihatlah lagi catatanmu untuk mencari jawaban atas goal yang sudah ditetapkan, dan hitung berapa banyak partisipan yang melakukan tindakan tertentu atau membuat jenis komen tertentu. Tentukan cara terbaik mengkomunikasikan informasi ini untuk membantu para pemangku jabatan.

page65image23872112

Pertimbangkan metode-metode di bawah ini dalam mendokumentasikan hasil temuanmu. Jika audiensmu adalah tim yang perlu bertindak cepat terhadap informasi yang mereka terima, menuliskan temuanmu dalam bentuk bullet points melalui email bisa menjadi media yang tepat. Jika kamu bisa menggabungkan email tersebut dengan pembicaraan cepat dengan para anggota tim, maka tim tersebut bisa memproses informasi yang ada dengan lebih baik.

PowerPoint presentation bisa menjadi cara yang baik untuk mendokumentasikan hasil temuanmu, termasuk screenshots dengan callouts, dan grafik yang bisa membantu menggambarkan poin-poin temuanmu. Kamu bahkan bisa menyertakan link video clips yang mengilustrasikan poin yang ingin kamu sampaikan.

Jika kamu berada dalam lingkungan yang lebih akademis, atau rekanmu perlu membaca laporan, tulislah sebuah dokumen laporan formal. Jangan lupa sertakan gambar yang bisa mengilustrasikan temuan-temuanmu.

Saat kamu sudah menguasai dasar-dasar usability testing, kamu bisa memperluas pengalaman/ keahlianmu dengan mencoba jenis testing lain seperti:

  • Remote moderated testing (sama seperti lab testing, hanya saja partisipanmu berada di lokasi lain, dan kamu berkomunikasi menggunakan WebEx atau tool sejenisnya dan telepon)
  • Remote unmoderated testing (usability testing dengan ratusan orang melalui tool seperti UserZoom atau Loop11)
  • A/B testing (menguji dua desain untuk menentukan desain mana yang lebih baik)
  • Competitive testing (mengadu desainmu dengan desain kompetitormu)
  • Benchmark studies (menguji progress situs atau appmu dari waktu ke waktu)

Usability testing adalah bagian penting dalam proses desain yang berorientasi kepada pengguna karena dengannya kamu bisa melihat apa yang berhasil dan apa yang tidak dalam desainmu.

Daftar Pustaka:

  • Dix, A., Finlay, J. E., Abowd, G. D., Beale, R. 2004. Human-Computer Interaction Third Edition, Pearson Education Limited.
  • Galitz, Wilbert, O. “The Essential Guide to UI Design 3/e”, 2007.
  • Johnson, J. 2010. Designing with the mind in mind: Simple guide to understanding user interface design rules. Morgan Kaufmann.
  • Wigdor, D., and Dennis, W. 2011. Brave NUI World: Designing Natural User Interfaces for Touch and Gesture. Elsevier.
  • Norman, D. A. 2013.The Designing of Everyday Things: Revised and Expanded Edition. Basic Book.

 14 total views,  2 views today

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *